Yesus makan di rumah orang farisi

Yesus makan di rumah orang farisi

Yesus makan di rumah orang farisi

Rm 1:16-25; Lk 11:37-41

 

Di dalam Injil, para farisi sering disebut bersamaan dengan para ahli taurat. Dua kelompok ini adalah kelas atas dalam tatanan sosio-religius masyarakat Yahudi. Diikuti oleh kelompok saduki, semacam kelas menengah, termasuk para imam yang urus Bait Allah. Para penarik pajak seperti Zakheus juga masuk kelas ini. Kelas bawah seperti para tukang, para budak dan buruh harian. Mereka ini penghasilannya kecil dan tidak cukup untuk keesokan harinya. Hidup mereka amat bergantung pada pemilik dan tuan-tuan tanah.

Ada kelompok paling bawah lagi yang tak berpenghasilan apa-apa tapi masih hidup! Mereka bergantung semata-mata pada uluran tangan orang lain: para peminta, orang cacat dan buta ….

Orang-orang farisi, secara khusus para ahli taurat memegang otoritas dalam menafsir kitab suci, membuat, menetapkan dan memberlakukan hukum untuk hidup keagamaan. Jadi Yesus diundang untuk makan di rumah kelas atas.

Bahaya terbesar dari para pembuat hukum adalah menafsirkan hukum dan memberlakukannya semata-mata untuk kepentingan kelas atas tanpa memperhatikan masyarakat bawah, tidak terdidik, buta huruf, tidak tahu apapun tentang hukum. Mereka ini adalah korban pertama ketidakadilan hukum yang diproduksi oleh para legislator.

Yesus masuk ke dalam rumah orang yang berasal dari kelas elite. Ia duduk di meja dan makan. Saat mulai makan si tuan rumah memperhatikan Yesus. Ternyata Yesus tidak cuci tangan terlebih dahulu. Makan tanpa cuci tangan, melawan hukum. Haram. Yesus dianggap najis, berdosa.

Serangan Yesus tidak tanggung-tanggung kepada tuan rumah. Hey, farisi! Piring dan gelas engkau bersihkan bagian luarnya, tapi bagian dalam penuh dengan barang-barang curian dan kejahatan.

Hati kita sering kali dipenuhi oleh banyak hukum yang dibuat oleh manusia. Mau buat ini salah, itu salah. Takut kepada hukum, aturan, agama. Akibatnya adalah rasa takut dan cemas yang terus menghantui diri kita. Karena itu gambaran tentang Allah yang disembah adalah allah aturan-aturan, allah hukum-hukum, allah farisi, allah yang diciptakan sendiri.

Tapi Yesus tidak ingin melihat kesalehan manusia yang dibuat-buat, palsu. Yesus mengkritik dan membongkarnya: Bukankah Dia yang menciptakan bagian luar, juga menciptakan bagian dalam?

Dengan ini Yesus sesungguhnya menawarkan dalam diri-Nya wajah Allah yang hadir sebagai seorang pribadi, yang menyatu dalam hidup manusia. Yesus menawarkan kewajaran, hidup yang sehat, didorong oleh nurani yang otentik, agar melahirkan pribadi-pribadi yang hidup dan berbuah oleh kasih, sukacita dan kebebasan sebagai anak-anak Allah.

Yesus, bukan Engkau yang menjadi tamu di rumahku,

melainkan akulah yang Engkau undang masuk ke dalam kediaman Ilahi-Mu,

rumah abdi Bapa, Pemilik dan Tuan Rumah yang sesungguhnya.

Amen!

 

 

Comments are closed.
Translate »