Rom 4:20-25/Luk 12:13-21
Senin, 19 Oktober 2015
Rom 4:20-25/Luk 12:13-21
Apakah kita pernah menyaksikan kasus penyelesaian sengketa uang atau masalah warisan? Permasalahan dan persengkataan seperti ini biasanya berlarut-larut dan tidak mudah dicarikan solusinya. Persoalan akan semakin pelik dan berbelit-berbelit terutama bila kerabat atau keturunan dari seorang yang meninggal dunia tidak mencapai kata sepakat siapa yang harus mendapatkan hak A atau B dan siapa yang berhak memperoleh bagian terbesar? Yesus menolak untuk menyelesaikan sengketa warisan antara dua bersaudara bukan karena dia tidak bisa tetapi karena dia merasa bahwa jantung permasalahan dari sengketa itu bukan pada soal adil tidaknya pembagian harta tetapi pada bagaimana sikap manusia terhadap harta tersebut. Kecenderungan manusia untuk menjadi serakah dan terlampau posesif terhadap harta sehingga mengabaikan sikap mengalah, berbesar hati dan lapang dada, itulah yang mau disoroti oleh Yesus. Yesus mau menyoroti betapa sering kecenderungan untuk memiliki banyak dapat membuat orang lebih mencintai harta daripada saudaranya sendiri.
Sepuluh perintah Allah dirangkum menjadi dua larangan – tidak menyembah berhala dan tidak mengingini apa yang menjadi milik yang lain. Ini adalah sisi lain dari dua perintah besar-mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Yesus memperingatkan orang yang ingin memperoleh setengah dari warisan saudaranya untuk “berhati-hati dari semua ketamakan.” Ketamakan mendorong orang untuk mendapatkan secara tak adil, secara lalim apa yang sebenarnya adalah milik saudaranya. Ketamakan bisa termanifestasi dalam sikap cemburu pada rejeki yang Allah berikan kepada saudara sendiri. Penekanan Yesus pada perintah “jangan mengingini milik sesamamu” menjadi lebih jelas ketika Yesus juga menegaskan bahwa kualitas kehidupan seseorang tidak harus tergantung pada kelimpahan harta yang dia miliki.
St. Agustinus memberikan komentar jitu terhadap sikap ini. Keserakahan itu memecah belah tetapi cinta senantiasa merangkum dan merangkul. Kewaspadaan terhadap setiap jenis keserakahan dapat diubah secara positif menjadi kesediaan untuk mengisi diri dengan cinta dan pengertian serta bela rasa. Orang yang tamak dalam Injil bilang kepada yesus: “Guru, bilang pada saudaraku untuk membagi harta warisan dengan saya.” Kita bisa bilang pada Yesus: Tuhan, saya sudah punya Dikau. Itu cuup bagi saya. Bilang pada saudaraku bahwa dia bisa pula memiliki harta warisanku. Amin.