“Numb” : kehilangan kemampuan untuk merasa
“Akan datang waktunya kamu ingin melihat satu dari pada hari-hari Anak Manusia itu dan kamu tidak akan melihatnya.”
Foto-foto kebakaran hutan sejak 20 th lalu di Indonesia: http://qz.com/544499/photos-palm-oil-production-has-been-smoking-out-southeast-asia-for-20-years/
Kalau anda meng-klik tautan di atas, kita akan melihat kalau negara kita telah mendiamkan kebakaran hutan sejak puluhan tahun lalu. Tapi setiap orang di negara kita, terutama pemerintah, kehilangan rasa dan kehilangan kemampuan untuk melihat bahwa hal itu adalah masalah yang urgen untuk diselesaikan. Baru ketika negara tetangga mulai merasakan dampak yang hebat dari asap, kita baru kalang kabut, dan mulai memikirkan bagaimana memadamkan api.
‘Namb’ adalah kosa kata English yang berarti orang tak lagi punya sensitivitas, tak punya kemampuan untuk merasakan, dan membuat orang menjadi diam pasif. Itu kiranya yang telah terjadi dalam kehidupan kita orang Indonesia. Mentri Susi omong, “DI negeri ini, kalau ndak diributkan, ndak dipermasalahkan!”
Orang-orang tak mau meributkan soal asap sejak dahulu. Pemerintah juga enggan omong masalah ini, karena mereka ingin meningkatkan produksi hasil kelapa sawit dengan membuka lahan baru dengan cara dibakar. Seolah asap kebakaran hanya dianggap angin lalu. Toh nanti hilang sendiri seiring hujan dan angin datang!
Yesus berkata, “Akan datang waktunya, saat Anak Manusia datang, tapi kamu tak melihatnya!” Jangan sampai kita semua menjadi “Numb”, tak punya perasaan, tak bisa melihat lagi dan tak punya sensitivitas. Amatlah menakutkan kalau kita hanya diam dan pasif. Lebih menyedihkan lagi kalau kita membiarkan diri kita menjadi ‘numb’.
Semoga kita setiap hari bisa mengasah perasaan dan kemampuan untuk mengerti bahwa ada persoalan yang harus kita selesaikan, jangan ditunda dan dibiarkan, seolah tak ada, atau membiarkan hingga orang lain yang menyelesiakannya.
