kebohongan
Hal yang memberatkan hati Yesus selama hidup-Nya adalah penolakan dari beberapa kelompok yang mampu menghasut banyak orang. Sikap bohong dari kalangan kaum Farisi dan ahli Taurat menjadi dosa yang berat. Mereka sudah mengetahui bahwa Yesus sungguh datang dari Allah dan sungguh Anak Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia dan alam semesta namun mereka tidak mau menerima-Nya dengan berbagai alasan. Mereka hidup dalam kebohongan.
Seringkali kita pun hidup dalam kebohongan. Kita tetap bergelimang dalam dosa sementara kita tahu bahwa Yesus datang untuk menebus dosa-dosa umat manusia. Marilah kita berdosa dengan gagah berani, artinya mau mengakui bahwa kita telah berdosa dan bahwa kita tidak merasa bangga dengan dosa-dosa kita itu dan kita bersedia bertobat. Untuk bertobat, artinya membiarkan diri dipimpin kembali oleh Tuhan sungguh membutuhkan kebesaran hati dan keberanian untuk mengakui bahwa kita memang berdosa. Kita berani untuk bergembira karena Tuhan datang menuntun kita kepada kebahagiaan dan kita berduka atau berkabung karena dengan berani kita mengakui bahwa kita berdosa.
Kedua hal tadi sungguh membutuhkan sikap gagah berani. Memiliki iman seberani itu sungguh merupakan anugerah yang perlu kita mohon terus-menerus. Mengakui kedosaan kita dan datang ke sakramen pengakuan dosa merupakan tindakan gagah berani. Banyak orang yang tidak berani sampai pada taraf itu. Entah karena merasa malu, entah karena merasa tidak perlu, entah karena tidak tahu, entah karena belum merasa perlu.
Marilah kita kembali hidup sebagai orang beriman sejati yang memiliki keberanian untuk menyesuaikan diri kita dengan martabat kita sebagai orang beriman. Kesalahan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah dalam kebohongan mereka. Ini yang membuat Yesus berkata, “ … Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak berkabung.” Mereka telah mengalami bagaimana Yesus hidup dan melayani yang menampakkan karya Ilahi, mereka mengakui bahwa tidak ada orang yang mampu melakukan karya seperti itu kalau Ia bukan dari Allah, namun mereka memilih tetap dalam kebohongan dengan menolak Yesus.
Marilah kita menyongsong Natal dengan hidup beriman sejati. Menjauhkan diri dari segala macam bentuk kebohongan.
Rm. Ignatius F. Himawan, MSF