Suara di Padang
Sabtu, 2 Januari 2016
1John 2:22-28/John 1:19-28
Dalam setiap perbincangan harian suatu pertanyaan selalu memiliki fungsi ganda yakni menegaskan atau menyangkal kebenaran. Penyangkalan yang negatif dan buruk adalah penipuan.
Ketika para imam dan kaum Levi dikirim untuk menanyakan identitas Yohanes yang sesungguhnya, ia menjawab mereka singkat: bukan!
Yohanes menjawab bahwa dirinya bukan Kristus, bukan Elias, bukan Moses tapi “suara yang berseru-seru di padang gurun” merujuk Yes 40:3, artinya dia yang menyiapkan jalan bagi Kristus.
Yohanes memanifestasikan diri sebagai hamba yang membuka jalan agar hati dan pikiran bangsanya lapang dan berkenan bagi Tuhan yang datang.
Ada yang lebih penting dan lebih besar dan bernilai dari Yohanes sendiri, karena itu ia tidak menyangkal melainkan menegaskannya sebagai kebenaran, yakni Kristus yang telah datang.
Surat pertama Yohanes dalam bacaan hari ini berbicara tentang Pembaptisan sebagai jalan untuk hidup dalam kebenaran Kristus. Dalam permandian ada pelepasan dari dosa dan maut. Hidup seperti ini adalah hidup sebagai anak-anak terang, hidup abadi yang dianugerahkan oleh Kristus sendiri.
Hidup dalam tekanan, tidak merdeka, sering memasukkan orang dalam kemunafikan. Dalam percakapan biasa dan sederhana sekalipun, godaan untuk menyangkal sering tak terelakkan. Penderitaan berlebihan dan kemiskinan dan perang sering menimbulkan penolakan, iri hati dan kebencian masif. Ini semua adalah lawan, musuh, yakni kegelapan dunia.
Semua negativitas ekstrim dan absolut, adalah musuh Kristus. Kristus telah mentransformasinya dengan kematian dan kebangkitan-Nya, terutama yang urgent, jiwa-jiwa yang belum dan tidak tenang-tenang hingga saat ini.
Yohanes, baptislah kami dengan air pembersihan dan pengampunan atas dosa-dosa yang mendera jiwa kami.
Kristus baptislah kami dengan api dan roh cinta kasihmu agar kami hidup dan beroleh jiwa yang damai dan tenang bersama Bapa dan Roh Kudus, Amen!