Membuka Mata
Senin, 15 Februari 2016
Imamat 19:1-2, 11-18
Mazmur 19
Matius 25:31-46

Kalau anda ditanya mengapa jika sedang menyetir kendaraan anda mengikuti aturan-aturan lalu lintas. Mungkin jawaban sebagian anda yaitu karena takut ditilang oleh polisi. Bagi anda yang pernah mengalami jalanan di Jakarta, pasti anda pernah menyaksikan (atau mungkin melakukan sendiri) bagaimana aturan lalu lintas dilanggar jika tidak ada polisi yang melihat.
Sekarang bayangkan bagi anda yang sudah menikah, kalau ditanya kenapa setia pada pasangan anda dan tidak “jajan” di luar rumah. Saya yakin anda menjawab karena anda cinta pada pasangan anda dan inilah cara menunjukkan kasih sayang itu, dengan memberikan sepenuh hati anda kepada dia.
Bacaan dari Imamat hari ini penuh dengan aturan-aturan. Kita tahu aturan itu datang dari Tuhan sendiri dan kita berusaha mematuhinya. Tapi Yesus memberi alasan yang lebih mendalam lagi dari sekedar mematuhi aturan. Ia mengatakan bahwa setiap perbuatan baik yang kita lakukan bagi sesama, terutama mereka yang paling membutuhkan, sebenarnya adalah melakukan perbuatan itu terhadap Yesus sendiri.
Kristus adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Inkarnasi inilah yang mengangkat derajat semua manusia. Setiap serangan atau kekerasan pada manusia lain adalah serangan terhadap Yesus sendiri. Sebaliknya, perbuatan baik kita menjadi kebaikan terhadap Tuhan yang sudah begitu mengasihi kita.
Pandangan seperti inilah yang dimiliki banyak santo santa kita. Mother Teresa tidak merasa risih membantu gelandangan yang kotor dan sekarat di India karena dia dapat melihat Yesus di balik wajah mereka. Bisakah kita membuka mata kita dan melihat kehadiran Tuhan dalam sesama kita yang paling membutuhkan? Jika nanti anda bertemu orang miskin atau anak jalanan, tanyalah dalam hati anda, bagaimana kalau itu adalah Yesus sendiri? Apa yang akan anda lakukan?