Yes 50:4-9a dan Mat 26:14-25
Hari Rabu pada Pekan Suci ini juga pernah dikenal sebagai “Rabu Tenang”. Sebutan ini muncul dari kenyataan bahwa Injil tidak menceriterakan kepada kita apa yang dilakukan Yesus pada hari Rabu di dalam Pekan Suci ini. Yesus “menenangkan diri” pada hari itu. Beberapa orang berspekulasi bahwa sesudah perjalananNya ke Yerusalem dan menjalani dua hari yang menegangkan dan melelahkan dalam perdebatan dengan para pemimpin Yahudi, Yesus memilih untuk istirahat dengan murid-muridNya di Bethany. Mereka melakukan rekoleksi sehari, penenangan diri dalam doa yang intensif dan efisien sebelum memasuki dan menghadapi hari-hari yang berat.
Kita akan mudah menjadikan hari penuh dengan kegiatan; kita merasa takut untuk tidak memiliki aktivitas. Tidak jarang orang menjadi tertekan apa bila harus tinggal diam dalam doa satu jam saja. Kalau toh bisa datang ikut Perayaan Ekaristi sering kita menggerutu: “Misanya terlalu lama”. Kita harus mencapai target; ini belum selesai, itu belum tersentuh. Bila kita melihat kalendar kita, ternyata sudah sangat penuh dan masih ada kegiatan yang tidak mendapatkan tempat. Kita masuk dalam dunia komoditi; kerja; kesibukan yang tidak semuanya buruk.
Akan tetapi, menyisihkan waktu untuk penenangan diri adalah esensial karena penenangan diri bersifat restoratif. Istirahat adalah suci ketika di dalamnya kita membuka hati menyambut Tuhan Yesus yang berkenan istirahat dalam “rumah” kita. Memiliki waktu tenang bersama Tuhan Yesus sangat diperlukan terutama ketika kita akan mengambil suatu keputusan yang sangat penting dalam hidup kita. Apalagi apabila masa depan yang akan kita jalani adalah tidak menentu atau tidak menjanjikan datangnya keberhasilan melainkan penderitaan.
Selama masa Prapaskah ini kita telah menjalaninya bersama Tuhan Yesus yang berjalan menuju ke bukit Kalvari. Kita hampir mencapai puncaknya. Besok kita akan mengenangkan kembali kisah penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada hari Jumat kita akan menyaksikan kisah penyalibanNya. Dan pada hari Minggu kita akan melihat kebangkitanNya yang mulia melalui perarakan Lilin Paskah. Namun hari ini, “Rabu Tenang” kita lalui sebelum hari-hari dalam badai.
Barangkali schedule kita tidaklah tenang hari ini, namun kita masih bisa menyisihkan diri dan menyiapkan diri kita untuk menerima Tubuh Kristus pada Perayaan Tri Hari Suci yang sangat berarti bagi kita orang Katolik.