Kepada siapa aku akan pergi?

Kepada siapa aku akan pergi?

scales-of-justice

John 6:66-69

Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.  Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?”  Jawab Simon Petrus kepada-Nya: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;  dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.”

Ada berbagai alasan praktis dan teologis mengapa orang berpindah agama atau tidak percaya lagi pada imannya. Mulai dari alasan praktis, misalnya karena mengikuti kepercayaan pasangannya. Menikah dengan orang yang satu iman lebih memudahkan bagaimana mendidik anak. Orang tak lagi datang ke Gereja Katolik karena tak ada yang menjemput, Gereja yang jauh, atau tak memiliki teman dalam komunitas Gereja. Pindah Agama juga bisa terjadi karena orang merasa disakiti oleh sesama di komunitas, atau tak lagi cocok dengan pemimpinnya.

Alasan orang tidak lagi percaya pada imannya biasanya lebih mendalam, tidak hanya soal praktis. Mereka mempertanyakan ajaran iman yang ada dalam agamanya. Misalnya, “Kalau Tuhan maha pengasih, mengapa Dia membiarkan orang sengsara?” “Kalau Allah sungguh mengasihi manusia, mengapa Ia membiarkan ada neraka abadi untuk menghukum orang?” Atau orang merasa bahwa nilai-nilai Gereja bertentangan dengan nilai masyarakat yang diyakini benar seperti soal LGBT (Gay, Bisex, and trangender) atau yang lainnya.

Kala banyak murid meninggalkanNya, Yesus bertanya pada Petrus, “Mengapa kamu tidak pergi juga?” Petrus memberi jawaban yang sangat mendasar bahwa iman pada Yesus Kristus membawa pada keselamatan dan hidup kekal. Gereja Katolik meyakin bahwa ajaran dan iman pada Kristus  membawa anggota Gereja menerima jaminan hidup abadi dan keselamatan.

Persoalannya bagaimana orang tetap bisa percaya pada Allah dalam Gereja Katolik saat mereka juga hidup dalam dunia modern yang nilai-nilainya berseberangan dengan ajaran Gereja. Dalam kotbahnya Bapa Suci Fransiskus berkata kalau orang Katolik hendaknya tidak hanya taat pada hukum saja, tapi memakai hati nuraninya untuk mengambil putusan dan dalam bertindak. Tidak hanya melihat dan menghakimi memakai kacamata hitam dan putih saja, tapi memilih dan menilai berdasar nilai kasih, pengampunan, dan kerahiman Allah yang ditawarkan pada kita selama tahun  ini.

Comments are closed.
Translate »