REFLEKSI KERAHIMAN ALLAH
Suatu ketika sebuah pernyataan sederhana dari seorang sahabat cukup membuat saya berpikir dan berefleksi diri akan Iman kepercayaan saya akan kerahiman Tuhan. Kebetulan waktu itu Paskah baru memasuki minggu kedua setelah pesta kerahiman Ilahi. Penyataan sahabat tersebut berbunyi demikian “Saya sungguh tidak mengerti dan tidak percaya mengapa setiap kali merayakan kebangkitan Yesus yang jaya dengan luapan kegembiraan dan rasa syukur. Hari ini saya merasa sedih dan putus asa dan mulai bertanya lagi apakah saya sungguh percaya akan kerahimanNya yang menyelamatkan saya?” dan dia melanjutkan sambil memegang sebuah gambar kerahiman Ilahi; “ coba perhatikan gambar kerahiman Ilahi ini, tulisan dibawah ini indah sekali “ Jesus I trust in You ( Yesus, aku percaya kepadaMu), tapi kayaknya untuk mengambarkan apa yang saya alami hari ini saya bisa mengungkapkan “ Jesus I trust in You, but I don’t trust in myself to have courage to put my trust in You!.
Mengapa kita sulit untuk percaya? Firman Tuhan dalam injil Yohanes dalam diminggu-minggu ini banyak memperingatkan kita untuk meyadari nilai dari sikap percaya. Citra Gembala Baik berfokus pada bagaimana orang percaya menjadi selaras dengan suara Yesus yang memanggil domba-dombanya dan domba-dombanya mengenal suaranya dan mengikuti dia dengan setia dan tidak akan mendengarkan suara yang lain. Persoalannya adalah apakah kita benar-benar mendengarkan suaraNya yang hidup atau masalah lain? dan kebanyakan dari kita hidup setiap hari terjebak dalam tuntutan praktis dalam tugas dan kewajiban yang harus diselesaikan. Atau kita sangat terfokus hanya kepada perasaan dan kenangan mengganggu.
Yesus mengatakan, “Barang siapa percaya dan dibaptis akan diselamatkan.” “Percaya …supaya kamu tidak tinggal dalam kegelapan…Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang,supaya setiap orang yang datang kepadaKu jangan tinggal dalam kegelapan “ ( Yoh 12:46). Kalau kita bisa bertanya disini, kegelapan apa sebenarnya yang Yesus mau kita hindari? dari refleksi saya pribadi yang saya lihat berkesinambungan dengan pernyataan sahabat saya yang tersebut diatas, kegelapan ini adalah melambangkan keragu-raguan dan ketidakpercayaan kita yang menolak akan kerahimanNya yang nyata. Kembali kepada pernyataan sahabat saya itu, saya mengajak dia untuk mencari tahu tentang penjelasan gambar kerahiman Ilahi tersebut. Dan dari Diari Santa Faustina dijelaskan bahawa Gambar ini tidak hanya mengungkapkan Kerahiman Ilahi, tetapi juga menjadi tanda untuk mengingatkan kewajiban kristiani, yakni berserah kepada Allah dan aktif mengasihi sesama. Berkat kehendak Kristus, gambar ini disertai tulisan “Yesus, Aku Percaya Kepada-Mu.” Yesus juga menjelaskan, “Gambar itu dimaksudkan untuk mengingatkan orang akan tuntutan-tuntutan kerahiman-Ku sebab bahkan iman yang paling kuat pun akan sia-sia kalau tidak disertai dengan perbuatan”.
Tanpa iman, ini tidak berarti, ini menuntut keterbukaan kita untuk bekerjasama dengan rahmat Tuhan. Karena itu kita patut bersyukur karena kerahiman Allah yang besar yang mengutus Yesus menjadi manusia sama seperti kita. karena Yesus, kita dapat berjumpa dengan Allah dalam istilah manusia. Yesus adalah wajah Allah, dan hidup, persahabatan intim dengan Dia adalah mungkin. Barangsiapa melihat Aku ,ia telah melihat Bapa yang mengutus Aku sabda Tuhan.
Dan seperti semua persahabatan nyata dan benar, kita bertumbuh dalam kasih melalui trial and error, konflik dan resolusi, tidak adanya dan kehadiran, bahkan keterasingan dan pemulihan pada tingkat yang lebih dalam. Kita sering menemukan diri kita dalam ketegangan atau tantangan, tidak tahu bagaimana hal-hal akan bekerja keluar. Demikian juga dalam persahabatan dengan Allah, Yesus mau mengajar kita untuk berkata Yesus aku percaya kepada-Mu sampai pada kedalaman lubukhati kita dan meresap keseluruh ada kita dalam kesadaran bahwa Dia datang supaya kita selamat.