Chorazin & Bethsaida

Matius 11: 21-22
Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung.
Sesudah meninggalkan masa kecilnya, Yesus tinggal di wilayah Kapernaum, wilayah tepi Danau Galilea. Tak jauh dari situ, Dia bertemu dengan para muridnya di sekitar Tiberias dan Genesaret. Kalau anda melihat peta di atas, kita menjadi tahu kalau Corazim, Betsaida, Capernaum, dan Genesaret menjadi tempat yang paling sering disinggahi Yesus selama mewartakan Injilnya.
Corazim hanya beberapa kilometer dari Kapernaum. Sekarang ini tak ada orang yang tinggal di sana. Hanya reruntuhan bangunan dan sinagoga yang tersisa. Namun kita akan terkejut ketika melihat sebuah relief di reruntuhan Bait Allah Corazim. Ada gambar Medusa di salah satu batu tembok sinagoga. Seorang wanita berkepala ular dalam kisah mitos Yunani. Orang-orang Corazim kemungkinan percaya juga dewa-dewi Yunani selain percaya pada Yahwe.
Yesus mengecam Corazim karena mereka tidak hanya mendengar mukjijat Yesus, bahkan sering mereka melihat sendiri selama beberapa tahun apa yang telah dikerjakan Yesus di sekitar Galilea. Namun, mukjijat itu tak mengubah hati mereka yang bebal dan keras. Mereka mungkin percaya Yesus bisa membuat mukjijat, tapi mereka tak percaya atas pewartaan Yesus. Mereka tak berubah!
Betsaida berarti “rumah pemancingan.” Wilayah di tepi danau Galilea, tempat tinggal Yohanes, Yakobus, dan Philipus, murid-murid Yesus yang pertama. Yesus juga menyembuhkan seorang buta di Betsaida, dan mengadakan mukjijat penggandaan Roti. Namun tetap saja, tak banyak orang terpengaruh oleh mukjijat Yesus. Kota ini lebih condong hidup berasimilasi dengan orang Roma.
Dua kota ini lebih besar dosanya dari Tirus dan Sidon karena warga kotanya tidak hanya mendengar, tapi melihat dengan mata sendiri apa yang telah dilakukan Yesus. Mereka tidak menolak, tapi tak percaya. Ketidakpercayaan membuat orang tidak berubah.
Semoga kita tidak seperti penduduk dua kota itu, Betsaida dan Corazim yang sudah tak mau lagi berubah hidupnya untuk lebih baik lagi.