Pesta St Yakobus, Rasul
Bacaan I : 2 Korintus 4:7-15
Bacaan Injil : Matius 20:20-18
Akhir pekan lalu, saya turut melayani pernikahan pasangan muda mantan aktifis Mudika dan PDMKK Melbourne di Temanggung. Setahun sebelum hari perkawinan, Sang Mempelai Perempuan berinisiatif membuat proyek wawancara mendalam dengan banyak pasangan suami istri yang ia kenal baik, untuk mengekstraksi sari-sari kebijaksanaan mereka tentang perkawinan. Meski rencana awal untuk menyusun 52 kisah cinta –mentargetkan menyusun satu kisah setiap satu minggu- tidak tercapai penuh karena aneka kesibukan lain, ia toh berhasil menyusun rangkaian kisah dan refleksi kunci keberhasilan keluarga yang sungguh bernas.
“Yang paling menarik, Romo, pada hampir semua keluarga yang saya wawancarai, kunci kebahagiaan ada pada sang istri. Lebih tepatnya, pada kemampuan sang istri untuk mengalah. Mengalah dalam hal karier, mengalah dalam pengaturan hal-hal penting keluarga, mengalah dalam urusan yang kecil-kecil pula. Seorang istri hendaknya bangun lebih pagi dari suami, untuk bisa melayani menyiapkan sarapan, atau membuatkan kopi. Kalau istri tidak bekerja dan suami ke kantor, saat suami pulang hendaknya dia sudah merapikan rumah, merapikan diri, dan siap menyambut kedatangan sang suami dengan senyum. Ah… dalam bahasa yang mungkin agak vulgar, dia siap untuk menjadi “budak” suami dan anak-anaknya. Ya. Kunci keutuhan dan kebahagiaan keluarga bisa jadi sesederhana ini: perlu keberanian dan kebesaran hati untuk m e n g a l a h.”
Hanya orang-orang yang matang dan dewasa mampu benar-benar mengalah, dan bukan sekedar menyerah pasrah. Mengalah mengandaikan kesadaran adanya tujuan yang lebih besar yang hendak dicapai dalam jangka waktu yang lebih lama. Mengalah mengandaikan kemampuan mengendalikan diri untuk tidak meraup hasil yang nampaknya baik dalam sekejap namun melukai relasi dan kemungkinan pertumbuhan bersama yang lebih baik. Mengalah mengandaikan kekuatan untuk menjadi nampak kecil dan lemah di mata dunia, demi tujuan-tujuan yang lebih besar yang tak mudah dicerna seketika.
Yesus telah menunjukkan secara konsisten dalam hidup dan pelayananNya, sikap mengalah yang membuat tak seorang pun sesungguhnya mampu mengalahkanNya, sikap merendah yang membuat tak seorang pun mampu sungguh merendahkanNya. Dengan pilihan sikap ini, Yesus sesungguhnya selalu menjadi pelaku yang menjunjung tinggi martabatNya, dan bukan sekedar korban yang tak berdaya. Tidak mudah bagi para rasul untuk menerima pelayanan sebagai jalan mencapai kebesaran, sebagai kemuliaan yang sejati. Teramat sulit menerima penderitaan dan kematian yang dipersembahkan sebagai jalan menegakkan kehidupan yang sehidup-hidupnya.
Dunia mengukur kebesaran lewat matra kedudukan, kekuasaan, kegemilangan. Tak ada yang salah dengannya, kecuali jika kelekatan pada sarana-sarana itu menghentikan pandangan pada tujuan yang lebih dalam: kesejahteraan dan kebaikan untuk semua. Kembali ke permenungan tentang perkawinan, ada nasehat yang mengatakan bahwa dalam perkawinan, lebih dari sebelumnya, cinta berubah dari kata benda menjadi kata kerja. Sama halnya dengan kebesaran dalam kacamata iman. Kebesaran dan kemuliaan bukan lagi suatu “benda”, status yang mau diraih, posisi yang hendak direngkuh, melainkan suatu kerja yang tak henti digulirkan: melayani dengan cinta, jika perlu bahkan hingga dalam terluka. Seperti teladan Sang Guru yang tersalib dengan penuh luka tanda cinta. Siapkah Anda mengikutinya, meminum cawan yang diminumNya?
