Renungan Senin di dalam Pekan Suci (10 April 2017)

Renungan Senin di dalam Pekan Suci (10 April 2017)

Renungan Senin di dalam Pekan Suci (10 April 2017)

Bacaan-bacaan: Yes 42:1-7; Yoh 12:1-11

Mulai hari ini sampai dengan Sabtu kita berada di antara dua hari yang sangat keramat yakni Minggu Palma dan Minggu Paskah. Kita dituntun oleh bacaan-bacaan kitab suci dalam perayaan Ekaristi untuk semakin mendalami kembali bahwa kendatipun kita berada di dalam kelemahan yang berbuntut pada kegagalan dalam mengikuti Kristus dengan setia melalui pelayanan kepada sesama yang membutuhkan dan membersihkan diri dari kelakuan kita yang tidak sesuai dengan ajaran moral gereja, kita masih memiliki harapan bahwa melalui kesatuan kita dengan Yesus Kristus yang menderita sengsara kita akan dibangkitkan dalam pengertian bahwa semangat dan pelayanan kita kepada sesama yang membutuhkan dan pertobatan kita dari dosa-dosa melalui usaha matiraga kita dan dengan kekuatan anugerah Roh Kudus akan dimurnikan dan semakin diefektifkan. Dan pada gilirannya kepada kita akan dianugerahkan keselamatan abadi.

Kegagalan dalam melayani sebagai wujud cinta perlu senantiasa diperhatikan. Seperti di dalam Injil yang dibacakan pada Misa hari ini, Yesus mengingatkan Yudas Iskariot dan kita semua bahwa mencintai adalah suatu kekuatan yang sering membuat orang merasa takut untuk mewujudkannya kepada Tuhan dan sesama yang sangat membutuhkan bantuan, penghiburan, dan ekpresi apapun yang membuat Tuhan dimuliakan dan  sesama yang sedang menderita dilegakan.

Di dalam kehidupan kita tidak jarang, kalau tidak boleh dikatakan hampir selalu, kita mengalami konflik dengan sesama. Masyarakat kita berada dalam situasi tegang karena perpecahan pendapat tetang banyak hal: politik, ekonomi, etnis dan agama, sejarah keluarga, dan lain sebagainya. Bahkan di dalam diri kita sendiri senantiasa ada konflik: kita ingin berdoa tapi pada saat yang sama kita ingin menonton pertandingan olahraga di TV; kita ingin menyisihkan uang untuk membantu panti asuhan namun pada saat yang sama kita ingin membeli Handphone atau Cellphone model terbaru.

Soren Kierkegaard suatu saat pernah menggambarkan bahwa seorang Santo atau Santa adalah seorang yang dapat mengarahkan keinginannya pada satu hal saja. Seperti St. Teresa dari Kalkuta yang memberi teladan sangat keramat kepada dunia melalui panggilannya memilih Tuhan dan sesama yang malang dan miskin. Kita sebagai manusia lemah memiliki banyak keinginan. Kita bukan hanya membutuhkan hal-hal atau barang-barang tertentu namun kita terus haus mencari pemuasan atas keinginan-keinginan kita.

Dalam Pekan Suci yang keramat ini marilah kita tingkatkan sikap tobat kita dengan mengakui dosa-dosa kita dengan berani dan melakukan matiraga demi tercapainya satu hal saja: mencintai Tuhan dan sesama yang membutuhkan bantuan untuk bisa keluar dari penderitaan dan mengalami kelegaan. Marilah kita terus dan konsisten dalam doa untuk bisa menopang iman kita dalam ketegangan, konflik, dan penderitaan hari demi hari sebagai pengikut Kristus. Marilah kita tetap setia dalam pengharapan bahwa penderitaan, kesedihan, ketidakpuasan, dan kegalauan kita akan dimurnikan berkat kebangkitan Kristus yang akan kita rayakan dalam Minggu Paskah yang akan datang. Marilah kita tekun dalam doa dan devosi selama pekan suci ini dengan secara aktif melibatkan diri dalam perayaan-perayaan liturgi.

Comments are closed.
Translate »