Renungan Sabtu Suci
Renungan Sabtu Suci
Pada hari Jumat Agung, kita tidak merayakan Ekaristi-namun kita bisa menerima komuni yang telah dikonsekrasikan dalam Perayaan Ekaristi pada hari Kamis Putih.
Pada Hari Sabtu Suci ini, tidak ada liturgy apapun, oleh karena itu hari ini sering disebut sebagai Sabtu Sepi. Liturgy Cahaya malam nanti adalah Perayaan Vigil-persiapan dan memasuki perayaan Kebangkitan Tuhan Yesus.
Pada hari Sabtu Sepi ini kita memasuki misteri. Hari ini kita merenungkan Yesus, di sana di dalam makam yang gelap dan dingin. Di dalam makam Ia telah mati, persis seperti kita semua umat manusia yang telah dan akan mati. Tidaklah mudah merenungkan kematian, kita jarang merenungkannya.
Kematian, kita semua mengetahui, sering merupakah hal yang sangat menakutkan. Kematian sering dituding sebagai yang bertanggung jawab akan munculnya nafsu-nafsu badaniah, nafsu berkuasa, ketakutan yang berlebihan akan penyakit, dan lain sebagainya. Kematian tidak bisa dihindari. Waktu, uang, kegembiraan, kesuksesan, semua yang kita miliki dan pergunakan akan berakhir ketika kita mati. Hidup kita itu terbatas. Keberadaan kita sedang menuju ke kematian. Hal ini adalah soal waktu saja, semua yang tertinggal hanyalah tubuh fisik kita yang mulai membusuk.
Merenungkan kematian Yesus adalah merenungkan betapa tingginya, lebarnya, dan dalamnya kasih Yesus kepada kita (lih. Ef 3:18). Dalam payung kasih Kristus itu kita merenungkan juga kematian kita masing-masing. Kita menyiapkan hati kita untuk menerima Kabar Gembira akan kehidupan baru. Persiapan diri itu selalu mengandung kesediaan untuk diubah oleh Sabda Tuhan melalui pertobatan kita. Masih terus kita ingat bagaimana Yesus bersabda pada awal karya penyelamatannya ketika Ia mengundang kita, “bertobatlah dan percayalah pada Kabar Gembira”.
Perenungan kita pada hari Sabtu Sepi nan Suci ini menjadi persiapan kita untuk merayakan anugerah kehidupan sejati malam ini dan besok pada hari Minggu Paskah. Pengalaman ini membawa kita perasaan damai yang mendalam, kegembiraan yang menopang penderitaan, kebebasan yang menginspirasi kesediaan untuk semakin mencintai, dan semangat yang berkobar untuk semakin hidup dan menghidupi kekristenan kita.
Marilah kita merenungkan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus yang tertulis dalam suratnya kepada umat di Roma, “Tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita yang telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya”. (Rom 6:3-5)