Keadilan Allah

Keadilan Allah

Keadilan Allah
 
Senin pada Pekan Biasa ke-11
19 Juni 2017
Matius 5:34-42
 
Bacaan Injil untuk pekan ini diambil dari Matius bab 5 dan 6 yang merupakan bagian dari khotbah Yesus di gunung. Dimulai dengan Sabda Bahagia (Mat 5:1-12) dan ditutup dengan Yesus yang menyatakan bahwa setiap orang yang melaksanakan sabda-sabda-Nya ini seperti halnya orang bijak yang membangun rumah di atas batu (Mat 7:24-29). Khotbah di gunung ini merupakan pewahyuan penting tentang siapa Allah kita sesungguhnya dan bagaimana Allah ini berinteraksi dengan ciptaan-Nya terutama manusia.
Dari bacaan Injil hari ini, kita belajar bahwa Allah kita adalah Allah yang adil, tetapi Yesus mengingatkan bahwa keadilan Allah bukanlah keadilan manusiawi yang terfokus pada keadilan retributif, atau keadilan yang berazaskan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.” Ini adalah keadilan yang kita jalankan sehari-hari. Kita bekerja keras, maka kita patut mendapatkan gaji yang baik. Kita belajar dengan serius, maka kita berhak mendapatkan nilai yang baik. Kita dirugikan oleh orang lain, maka kita berhak mendapatkan ganti rugi yang sepadan. Kita menjadi korban kejahatan, maka kita menuntut pihak berwajib untuk menindak tegas para pelaku. Ini adalah keadilan yang mengerakan pengadilan, perusahaan, sekolah dan bahkan negara. Tanpa keadilan ini, maka Negara akan menjadi kacau balau dan kita tidaklah beda dengan hewan liar di hutan rimba.
Namun, keadilan Allah tidak sekedar berada di tarap retributif, namun keadilan distributif. Ini adalah keadilan yang menjangkau semua manusia agar mendapatkan hal-hal mendasar untuk hidup sebagai anak-anak-Nya. Kita semua diciptakan Allah Bapa sebagai citra-Nya, namun banyak dari kita, hidup dalam kondisi yang buruk dan tidak layak sebagai citra-Nya karena ketidakadilan dan keserakahan sebagian dari kita yang tidak peduli dengan sesama. Yesus pun mengajak kita yang hidup dengan berkelimpahan untuk jangan ragu berbagi dengan saudara-saudari kita yang masih hidup dalam kekurangan. Apakah kita berani bertanya kenapa saudara kita hidup dalam kemiskinan, apakah karena mereka malas atau karena ada ketidakadilan? Saat kita sudah hidup berkecukupan dengan “berjalan satu mil”, apakah kita mau berjalan lebih jauh bersama mereka yang setiap hari harus berjalan jauh demi sesuap nasi? Apakah saat kita memiliki “baju dan jubah” berlimpah, kita masih mau memberi kepada mereka yang bergulat dengan hukum demi sebuah helai baju?
Saat kita hanya fokus pada keadilan retributif, Yesus memanggil kita untuk menjadi adil secara distributif seperti halnya Bapa kita di surga. Menjadi anak-anak Allah berarti menjadi peduli dengan mereka yang tertindas dan miskin karena ketidakadilan karena mereka juga adalah anak-anak Allah. Inilah keadilan Allah.
 
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
Comments are closed.
Translate »