Aku ini gembala yang baik.
Renungan Harian
Selasa, 11 Juli 2017
Injil: Mat 9:32-38
Aku ini gembala yang baik.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah diminta mendampingi seorang frater-calom imam dan seorang postulan-calon suster selama dua tahun. Kedua orang muda ini bergulat dalam memahami hidup sebagai religius. Pergulatan mereka tidaklah mudah. Di satu pihak mereka memiliki iman yang sejati. Mereka percaya pada Tuhan sebagai penyelamat umat manusia yang memanggil mereka untuk menjadi seorang imam dan suster walaupun kaul-kaul kemiskinan, ketaatan dan kemurnian tidaklah dihayati dengan sempurna karena temperamen natural mereka.
Keduanya bergulat untuk memahami kehidupan dunia dewasa ini yang ditandai dengan pragmatisme, kerja yang berlebihan (workaholic), sikap individualistic yang berlebihan, dan berbagai macam addictions: drugs, pornography, sex-infidelity. Sangatlah tidak mudah pada jaman ini menjadi seorang religius; bahkan untuk menjadi seorang katolik yang baik dibutuhkan banyak hal untuk bisa memelihara iman akan Yesus Kristus penyelamat dunia.
Akhirnya postulan calon suster itu memilih meninggalkan biara karena ia merasa dirinya terlalu duniawi; ia mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai hidup duniawi dan sangat sensual. “Saya tidak bisa melayani Tuhan dan Gereja karena saya memiliki begitu banyak energy untuk kreatifitas dan sangat erotis. “Sedangkan frater itu memilih terus berjuang, dua tahun kemudian ditahbiskan sebagai seorang diakon kemudian dua tahun berikutnya imam.
Menjadi seorang gembala yang baik memanglah tidak mudah. Kita semua dipanggil untuk menjadi gembala. Kita semua, perempuan, laki-laki, religius, non-religious, imam, awam, orang tua, single, dipanggil untuk menjadi seperti Kristus sendiri. Menjadi gembala yang baik berarti berani meninggalkan yang 99 dan mencari 1 domba yang hilang. Ketika kita terlibat aktif di kegiatan gereja: Ekaristi, bakti sosial, apapun, kita cenderung menjadi senang kalau banyak yang datang dan sedih kalau hanya sedikit yang hadir.
Sedikit atau banyak yang ikut kegiatan menggereja sebenarnya bukanlah yang paling menjadi pusat perhatian. Kita hendaknya lebih memusatkan perhatian kepada mereka yang tidak datang ke Misa dan Bakti sosial. Ada banyak alasan mengapa terjadi demikian. Kita bisa melihat salah satu alasannya adalah kalau tingkat kehidupan ekonomi keluarga dan masyarakat meningkat menjadi membaik kebanyakan orang Katolik dan yang beragama lain tidak lagi melibatkan diri dalam keagamaan. Allah kemudian hanya menjadi sebuah “calling card”-dipanggil kalau sedang dibutuhkan.
Kabanyakan keluarga katolik dan masyarakat kita ini sedang “sakit”. Anda bisa menemukan sendiri macam apa itu penyakit-penyakit yang melanda keluarga-keluarga kita dan masyarakat. Kita dipanggil untuk menjadi gembala-gembala yang baik. Gembala yang baik adalah gembala yang mencintai domba-dombanya tidak dengan sikap kekuatiran yang posesif melainkan percaya bahwa domba-domba Tuhan itu adalah anak-anak kita yang masih remaja yang belum sempurna.
Umat yang tidak lagi kegereja karena hidup mereka yang terlalu mendunia termasuk over stimulasi dalam hal sex, penyalahgunaan obat-obatan, ketidaksetiaan pada pasangan hidupnya yang sah, kerja mencari nafkah yang berlebihan, atau pun terlalu miskin, semuanya itu bisa menghacurkan jiwa. Kita dipanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka.
Menyelamatkan jiwa-jiwa mereka tidak berarti mencari mereka kemudian mengambil mereka dari dunia mereka dan memisahkan mereka dari dunia ini. Melainkan bagaimana kita mendampingi mereka dalam pergulatan hidup sehari-hari sedemikian rupa sehingga berbekalkan baptisan iman mereka menjadi kuat dalam menghadapi tantangan dan godaan; sedemikian rupa sehingga mereka tetap bekerja di dalam dunia namun tidak berdosa melainkan mampu menjadi terang dan garam dunia.
Prakteknya bagaimana? Mari kita cari bersama.