Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Renungan Harian

Kamis, 13 Juli 2017

Injil: Mat 10: 7-15

Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Hidup, pertobatan, dan iman merupakan anugerah yang kita terima dari Tuhan dengan cuma-cuma. Kita tidak mendapatkan semua anugerah rohani itu dari usaha kita sendiri. Kita juga tidak boleh menjadi tuan atas hidup, tobat, dan iman kita sendiri. Namun demikian kita yang memandang hidup, tobat, dan iman sebagai anugerah gratis dari Tuhan tidak boleh juga memandang semuanya itu sebagai sesuatu yang “taken for granted” artinya menerima semua itu dengan tidak memeliharanya dengan baik seakan-akan anugerah-anugerah itu menjadi hak-hak kita dan dengan sendirinya akan menyelamatkan kita.

Dengan mengatakan, “Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah dengan cuma-cuma.”, Yesus mengingatkan para Rasul untuk memiliki motivasi yang tepat di dalam melayani. Yakni tidak mencari pujian diri sendiri, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak melepaskan diri dari Sang Pemberi hidup, tobat, dan iman. Anugerah hidup abadi yang diraih melalui pertobatan berdasarkan iman, harapan, dan cinta kepada Tuhan itu perlu dibagikan kepada siapa saja. Semua itu demi keselamatan bersama.

Apa yang dapat kita petik dari Injil hari ini? Kiranya ada beberapa nilai rohani yang sangat berharga bagi keselamatan kita dan umat manusia bila kita memelihara nilai-nilai itu dan mengamalkannya. Pertama-tama adalah nilai kerendahan hati. Setelah kita melaksanakan tugas-tugas kita dalam pelayanan di gereja dan di masyarakat kita dengan rendah hati, seperti Kristus sendiri, mengatakan, “kami hanyalah hamba-hamba…” (Lukas 17:10). Dengan demikian kita bisa menghidari sikap menyombongkan diri seakan-akan semua itu merupakan usaha dan keberhasilan kita sendiri. Kita terhindar dari sikap mencari pujian untuk diri sendiri.

Kita juga diajak untuk tidak mementingkan diri sendiri. Dengan kata lain kita diajak untuk semakin bermurah hati dalam hal apa saja, termasuk bermurah hati dalam pelayanan-pelayanan sakramen-sakramen dan pelayanan apa saja yang dibutuhkan umat dan masyarakat sekitar kita. Agar pelayanan-pelayanan kita semakin tumbuh dan berkembang, tidak hanya secara kuantitas tapi juga terutama secara kualitas-kedalaman iman dan kesucian- kita perlu menjalin hubungan yang tidak lepas-lepas dari Sang Pemberi anugerah-anugerah itu. Dengan demikian hidup doa yang mendalam yakni doa yang bersifat ritual, ritme, dan rutin hendaknya menjadi bagian integral hidup keseharian kita.

Sering terjadi mereka yang sangat aktif melayani dengan keberhasilan yang luar biasa terhadap kaum miskin dan pembela ketidakadilan dalam masyarakat, namun mereka tidak mau melibatkan diri dalam doa Rosario bersama komunitas. Bisa juga terjadi mereka yang

mendalam dan rutin doa pribadinya namun sangat pelit dan jual mahal dalam melayani permohonan umat dalam sakramen-sakramen atau non-sakramen lainnya. Ketidak seimbangan ini menunjukkan bahwa Sabda Tuhan Yesus di atas sangat penting untuk diperhatikan.

Comments are closed.
Translate »