Pergilah ke domba-domba yang hilang.

Pergilah ke domba-domba yang hilang.

Renungan Harian

Sabtu, 15 Juli 2017

Injil: Mat 10:1-7

Pergilah ke domba-domba yang hilang.

Saya sebagai anggota biara Kongregasi para missionaris dari Keluarga Kudus (MSF), sebagaimana setiap missionaris-klerus dan awam-mempunyai keprihatinan khusus kepada “domba-domba yang hilang”. Yesus pun mengajarkan demikian dengan perumpamaanNya tentang domba yang hilang (Mat 18:10-14).

Ketika ada sebuah retret atau konferensi orang-orang muda, katakanlah, di sebuah stadion, ketika ada yang bertanya, “Berapa yang datang?”, kita dengan bangga hati mengatakan, “…wah…ribuan orang muda datang!”. Memang ribuan orang muda datang ke konperensi itu. Namun kita perlu sadar juga bahwa ada puluhan ribu orang muda yang tidak datang mengikuti konperensi itu.

keprihatinan Yesus dan kita semua adalah satu domba yang hilang. Dan kita diharapkan berani meninggalkan yang sembilan-puluh-sembilan domba yang lain untuk mencari satu domba yang hilang itu, puluhan ribu orang muda tidak perduli lagi akan hidup rohani dan pada gilirannya tidak perduli pada keselamatan jiwa mereka sendiri.

Mengapa ada begitu banyak orang muda meninggalkan gereja? (menurut banyak ahli Sosiology di U.S. pada tahun 70-an gereja katolik kehilangan sekitar 5 percent dari anggotanya; antara tahun 2000 – 2015, 33 percent orang katolik menjadi eks-katolik). Mengapa? Kiranya ada beberapa alasan. Meningkatnya kesejahteraan hidup, menyebarnya akses ke pendidikan, internet, perempuan bekerja di kantor, pabrik, dan toko, dan masih banyak lagi.

Keadaan ini menimbulkan situasi yang menegangkan, melelahkan, dan membuat orang kecanduan sesuatu, entah kecanduan kerja, narkoba, alkohol, pornografi, kekerasan, game, dlsb. Lebih banyak orang memiliki akses ke dalam internet sering dipandang sebagai kekuatan yang membuat orang tidak ada hati lagi terhadap iman.

Kaum wanita mulai mendapatkan kesempatan bekerja, sehingga tidak ada waktu lagi untuk mendidik anak-anak mereka dalam hal doa dan menggereja.

Kesejahteraan hidup meningkat membuat orang-orang -tidak hanya katolik- melupakan Tuhan atau sekurang-kurangnya Tuhan akan diingat jika dibutuhkan ketika orang-orang mengalami penderitaan atau musibah yang menimbulkan bebagai pertanyaan dan pencarian jawaban.

Saya tidak tahu bagaimana permasalah ini ditanggapi secara praktis dalam pastoral. Kita perlu mencari bersama-sama; kita perlu berdialog dengan orang-orang muda yang bergulat dengan iman dan kehidupan. Pendampingan orang-orang muda tidak hanya sangat dibutuhkan namun juga perlu kesabaran dan pengertian, bukan dengan sikap yang mengadili atau menghukum.

Comments are closed.
Translate »