Sabat

Sabat

Sabat

 

Senin pada Pekan Biasa ke-23

11 September 2017

Lukas 6:6-10

 

Sabat adalah hari istirahat dan hari yang kuduskan untuk beribadah. Bangsa Israel pernah menjadi budak yang terus bekerja tanpa henti di Mesir, dan sekarang mereka telah bebas karena karya penyelamatan Tuhan. Untuk mengingatkan mereka agar tidak lagi menjadi budak dari pekerjaan, hari Sabat menjadi sarana untuk mengingatkan kebebasan mereka. Jadi, hari Sabat sesungguhnya adalah hari kebebasan dan kemerdekaan.

Pada zaman Yesus, para rabi telah menentukan setidaknya ada 39 kegiatan yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat, seperti memasak, membangun rumah, dan berpindah lokasi. Tentunya, ada beberapa pengecualian seperti dalam hal-hal darurat seperti membawa ibu yang mau melahirkan ke bidan. Banyak hal tidak diperbolehkan, tetapi ada juga hal-hal yang mendapat prioritas pada hari Sabat, seperti mengunjungi rumah ibadat, berdoa, membaca Hukum Taurat, dan juga berkhotbah.

Yesus sedang beribadah dan mengajar di sebuah rumah ibadah, dan dia menyadari bahwa beberapa Farisi terus mengawasi Dia. Menyadari bahwa ada seorang yang mati tangan kanannya, Yesus mengambil kesempatan ini untuk mengajar di hari Sabat. Yesus mengerti bahwa kasus orang yang mati tangan kanannya bukanlah sesuatu yang mendesak dan Yesus bisa menunggu keesokan harinya, tetapi Yesus melakukan hal yang sebaliknya. Dia menempatkan sang pria ditengah-tengah rumah ibadah dan bertanya apakah perbuatan baik diperbolehkan pada hari Sabat. Ia pun menyembuhkannya. Tentu hal ini membuat para Farisi marah, tetapi Yesus telah mengajarkan kita tentang makna sejati dari Sabat.

Sabat adalah hari pembebasan dan menjadi sebuah ironi jika hari Sabat malah memperpanjang penderitaan seseorang yang telah “diperbudak” oleh sakitnya dalam kurun waktu yang cukup lama. Ini adalah makna sesungguhnya dari Sabat: sebuah kebebasan sejati dari penderitaan.

Tentunya, sebagai seorang Kristiani, kita tidak merayakan hari Sabat, tetapi kita menghidupi semangat Sabat yang diajarkan Yesus sendiri. Pertanyaan sekarang: apakah kita masih diperbudak oleh beban dosa walaupun sudah ditebus oleh Kristus? Apakah kita masih ‘memperbudak’ orang lain dengan tindakan dan kebijakan kita yang arogan? Apakah kita sekedar merayakan ibadah tanpa melalukan apa-apa bagi saudara-saudari kita yang masih hidup tertindas dalam kemiskinan?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate »