Paradoks Sabda Bahagia
Paradoks Sabda Bahagia
Rabu pada Pekan Biasa ke-23
Peringatan St. Yohanes Krisostomus
13 September 2017
Lukas 6:12-19
“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. (Luk 6:20)”
Setiap orang tentunya ingin bahagia, dan kita melakukan banyak hal untuk mendapatkan kebahagiaan ini. Kita bekerja keras karena ingin mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan harapannya dengan kehidupan yang lebih baik, kita bisa lebih bahagia. Kita ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, kita ingin memiliki kekayaan yang lebih banyak, kita ingin memiliki mobil terbaru dan rumah lebih mewah. Mantranya adalah jika kita memiliki lebih banyak, menjadi lebih gembiralah kita. Ini adalah kebahagiaan yang dicapai melalui “Upward Mobility” atau “Pergerakan ke atas”.
Hari ini, Yesus juga menawarkan jalan kebahagiaan yang tertuang dalam Sabda Bahagia. Namun, setelah kita membaca Sabda Bahagia ini, kita mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh. Apa yang Yesus tawarkan justru bertolak belakang dengan apa yang biasa kita lakukan. Tentunya, kita sudah mendengar Injil ini berkali-kali sehingga daya tariknya tidak lagi kita rasakan, tetapi jika kita mendengar kata-kata Yesus untuk pertama kalinya ditengah-tengah kesibukan kita di dunia dan pekerjaan, kita mulai menyadari bahwa pesan Yesus adalah sesuatu yang radikal. Yesus menawarkan sebuah pergerakan ke bawah atau “Downward Mobility”.
Saat kita sibuk menjadi sukses dan mengumpulkan banyak hal, Yesus justru meminta kita menjadi sederhana dengan berbagi dengan mereka yang berkekurangan dan hidup secukupnya. Saat kita fokus untuk menikmati hidup, bersenang-senang, Yesus malah mengajar para murid-Nya untuk ikut berbelas kasih dengan mereka yang masih kelaparan. Saat kita mencoba mendapatkan yang terbaik dari hidup bahkan dengan cara-cara yang tidak jujur, Yesus mengajarkan untuk rendah hati dan tidak serakah.
Ajaran Sabda Bahagia ini sebuah hal yang radikal dan bertentangan dengan budaya materialisme yang menjadi roh penggerak ‘Upward Mobility’, tetapi ini bukanlah hal yang mustahil. Bahkan melalui Sabda Bahagia, Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa berada di posisi yang paling atas dan memiliki segalanya bukanlah kebahagiaan sejati. Hanya saat kita berani mengikuti Kristus, saat kita berani berbagi, saat kita mulai keluar dari dunia materialisme yang sempit, kita mulai merasakan ada kebahagiaan yang lebih mendalam. Hanya dengan melepaskan hasrat dan ambisi kita untuk terus memiliki, terus mencari diri sendiri, kita akan menemukan Kristus dan makna kehidupan sejati.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP