PIKULLAH SALIBMU

PIKULLAH SALIBMU

 

Lukas 14:25-33

 

“Bencilah ayahmu; bencilah ibumu; bencilah istrimu; bencilah anak-anakmu; bencilah saudara-saudarimu; bencilah hidupmu!” Kalau kita melakukan itu semua maka kita akan siap untuk memikul salib dan mengikuti Yesus. Demikian kata-kata Yesus dalam injil hari ini.

Sulit untuk mengenali Yesus dalam konteks ini. Ini bukan Yesus yang lembut yang diajarkan kepada kita sejak masa kecil. Ini bukan Yesus yang bahagia yang tersenyum seperti gambar-gambar ilustrasi yang ada di dalam Alkitab. Ini bukan Yesus yang lembut yang kita harapkan. Yesus ini terdengar kasar. Yesus kali ini kedengarannya ingin mengubah hidup kita menjadi orang-orang religius yang fanatik, yang membenci semua orang dan melepaskan segalanya, bahkan hidup itu sendiri.

Apa yang sedang Yesus bicarakan? Apakah Yesus telah melupakan perintah Allah yang keempat? Apakah kita sudah lupa menghormati orang tua kita? Bukankah Yesus mengatakan bahwa kita harus mengasihi diri sendiri? Bukankah Yesus mencoba untuk berbicara kepada orang-orang agar mencintai musuh-musuh mereka? Apakah Yesus lupa bahwa Tuhan itu cinta dan perintah pertama dan utama adalah mencintai Tuhan dan sesama?

Menurut injil Lukas yang kita baca pada hari ini, Yesus sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem ketika mengatakan hal ini. Penulis injil mengatakan kepada kita bahwa banyak orang mengikuti Yesus: mereka berteriak minta perhatian; memohon kesembuhan; dengan cemas menunggu mukjizat berikutnya; dan berjanji untuk mengikuti Yesus kemanapun dia pergi; berharap menyelamatkan mereka dari segala masalah mereka.

Saat itu, hanya Yesus yang tahu kemana mereka pergi. Hanya Yesus yang tahu bahwa dia sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, perjalanan menuju salib. Hanya Yesus yang tahu kengerian apa yang akan terjadi dan harus dihadapi.

Yesus mengetahui resiko yang akan dihadapi bagi mereka yang hendak mengikutiNya. Oleh sebab itu Ia mengingatkan kembali mereka untuk berpikir ulang dalam mengikutiNya ke Yerusalem. Yesus tahu bahwa sebagian besar dari mereka tidak akan mampu mengikutiNya memanggul salib. Yesus tahu bahwa para pencari ‘Mesias’ dan pemburu keselamatan tidak benar-benar menginginkan tipe pemimpin yang menuju salib.

Kata-kata Yesus dalam injil hari ini dirancang untuk mengejutkan orang banyak dan membuka tabir penyembahan ‘berhala’ mereka. Sekarang, kata-kata provokatif itu memancing kita. Kata-kata mengejutkan itu sekarang mengejutkan dan menggunjang kita. Kata-kata sulit ini menantang kita untuk melihat motivasi dalam mengikuti Yesus. Mengikuti Yesus berarti mati bagi diri sendiri dan berharap segala sesuatu yang kita miliki, tetapi juga dilahirkan kembali dalam roh.

Penting bagi banyak orang yang mengikuti Yesus untuk mendengar ini. Mengikuti Yesus tidak seperti penggemar sepak bola yang menguntit pemain favorit mereka dari satu kota ke kota lainnya. Ada harga yang harus dibayar. Harga itu adalah salib, tingkat pengorbanan dan penderitaan, bahkan mungkin dari kehidupan kita sendiri, bahwa setiap orang harus siap untuk menjalaninya demi injil dan pembangunan Kerajaan Allah.

Tidak ada yang bisa menjadi murid Yesus jika belum siap melepaskan semua yang dimilikinya. Mengikuti Yesus harus absolut dan tanpa syarat. Berapa banyak orang yang mendengarkan Yesus dan siap untuk itu? Berapa banyak dari kita yang siap untuk itu? Apakah aku sudah siap? Dan apa hal-hal yang saya pegang dan tidak bisa saya lepaskan? Apakah saya ingin menjadi murid Yesus? Sejauh mana? Apakah saya siap membayar harga yang Dia minta?

Comments are closed.
Translate »