KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU AKAN SAAT DAN WAKTUNYA
Minggu, 12 November 2017
Hari Minggu Biasa XXXII
[Keb. 6:13-17; Mzm. 63:2,3-4,5-6,7-8; 1Tes. 4:13-18 (1Tes. 4:13-14); Mat. 25:1-13]
KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU AKAN SAAT DAN WAKTUNYA
Seminggu ini, sudah tiga kali misa yang semua intensinya adalah mendoakan arwah para Romo yang dimakamkan di Kentungan. Mereka yang datang dari berbagai kalangan: umat dari berbagai tempat, para romo dari berbagai paroki dan tentu saja, keluarga para Romo tersebut. Dalam kotbah-kotbah yang disampaikan oleh para Romo yang memimpin misa, semua menegaskan tentang pentingnya sikap menghadapi kematian, yang pasti akan dialami oleh siapa pun. Para Romo yang dimakamkan di Kentungan ini, ‘mempersiapkan’ kematian dan menyongsong hidup baru, tentu saja, dengan mempersembahkan hidup bagi gereja partikular maupun gereja universal dalam setiap tugas dan kewajiban yang mereka jalankan. Setiap dari kita, memiliki hidup, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah perjalanan, namun yang pasti kita sadari adalah bahwa hidup sekarang adalah ‘jembatan’ menuju kehidupan baru yang dianugerahkan Allah kepada kita. Hidup kita yang sekarang, bisa kita maknai sebagai sebuah persiapan, sehingga begitu tiba waktunya, kita semua sudah siap. Masalahnya adalah kita tidak pernah tahu, kapan waktu itu tiba. Maka, secara logis, kita mestinya menggunakan waktu kita hari demi hari untuk selalu dalam kondisi siap.
Namun, namanya juga manusia, yang hidupnya juga diberi kesempatan untuk memilih berbagai macam hal. Ada yang memilih menggunakan hidup dengan ‘serampangan’ dan tidak mengikuti kehendak Allah. Orang dalam jenis ini, biasanya merasa bahwa hidup di dunia adalah hidup selamanya dan takkan berakhir, maka hidup di dunia dihabiskan untuk mencari kepuasan bagi diri sendiri. Mereka terlena, mereka terlupa, mereka lalai bahwa selalu akan tiba saat dan waktunya. Sebaliknya, ada manusia yang selalu taat dan setia mengikuti kehendak Allah. Orang jenis ini, biasanya merasa bahwa hidup di dunia adalah sementara dan suatu saat pasti berakhir, minimal untuk dirinya sendiri. Mereka mencoba untuk terjaga, bersiap-siap dan tidak lupa diri karena memang Tuhan akan datang tanpa pernah diketahui waktunya.
Injil hari ini, mengkisahkan perumpamaan yang sangat sering kita dengar tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh. Bijaksana, pertama-tama bukan karena kepandaian dan pengetahuan yang luas, namun karena selalu tahu dan sadar arah dan tujuan hidupnya. Lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh, hendak menggambarkan bahwa semua orang dipanggil dan dipilih Tuhan, namun tidak semuanya mengambil sikap yang sama untuk bersiap dan berjaga. Lima gadis yang bijaksana membawa minyak dalam buli-bulinya sebagai persediaan, sebagai tanda bahwa mereka sungguh siap dengan berbagai macam kemungkinan, karena meski mereka ‘tertidur’, dan mempelai datang, mereka punya minyak untuk mengisi kembali pelitanya. Sebaliknya, lima gadis yang bodoh, karena mereka tidak mempersiapkan apa pun, maka saat mereka ‘tertidur’, dan mempelai datang, mereka terkejut dan karena tidak mempersiapkan apa pun, maka mereka tidak diperkenankan untuk turut ambil bagian dalam pesta perjamuan. Belajar dari lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana, semoga kita diberi roh kebijaksanaan untuk menggunakan segala sarana untuk memilih hal-hal yang akan membawa kita pada perjamuan abadi di surga, dan bukan terjatuh pada perkara-perkara yang akan kita justru semakin menjauh dari Tuhan. Semoga kita selalu siap, karena kita tidak pernah tahu akan saat dan waktunya.
Selamat pagi, selamat mempersiapkan kehadiran yang mempelai dengan terus berjaga dan setia. GBU.