Hari Rabu dalam pekan ke 32 Masa Biasa
Hari Rabu dalam pekan ke 32 Masa Biasa
15 November, 2017
Kebijaksanaan 6:1-11
Lukas 17:11-19
Saudara-saudari terkasih,
Bayangkan bagaimana kesepuluh orang kusta berdiri di kejauhan, minta belaskasihan Yesus. Dan setelah mereka semua sembuh, bebas dari kustanya, hanya satu orang yang kembali kepada Yesus untuk mengucapkan “terimakasih.” Apakah sembilan orang yang lain yang sudah menjadi sembuh itu samasekali tidak sadar, siapakah yang telah menyembuhkan mereka? Apakah karena mereka begitu senang dan bahagianya sampai lupa untuk datang berterimakasih kepada Yesus? Kalau kita tidak bisa memberikan jawaban yang tepat, tetapi yang paling penting kita tahu bahwa dia yang kembali untuk berterimakasih itu sungguh-sungguh mau memuji dan bersyukur kepada Tuhan dengan suara lantang.
Saudara/i, yang menarik perhatian juga bahwa bukan hanya memuliakan Tuhan, tetapi ia berlutut dihadapan Yesus dan mengucapkan “terimakasih”nya. Pernyataan terimakasihnya itu tidak hanya sekedar menjabat tangan atau menganggukan kepalanya, tetapi dengan seluruh keberadaannya, ia kembali kepada Yesus. Bahkan injil hari inipun secara istimewa menegaskan dan menjelaskan bahwa yang kembali untuk berterimakasih itu adalah orang Samaria. Kita tahu bahwa orang Samaria adalah orang-orang yang menolak Yesus. Bahkan mereka samasekali tidak menghendaki bahwa Yesus masuk ataupun berjalan lewat kota mereka. Dan sekarang kita diberitahu bahwa salah satu orang kusta yang disembukan Yesus adalah orang Samaria.
Saudara-saudari terkasih.
Kasih Allah dialami oleh setiap orang baik yang dianggap layak ataupun tidak, tetapi kita tahu bahwa kesembuhan itu adalah berkat campur tangan Tuhan. Kalaupun kita mengalami kehadiran Yesus hari ini, kita perlu mengetahui bahwa kehadiran dan campur tangan Yesus ketika kita menerima sakramen-sakramenNya. Sakramen adalah tanda kehadiran kasih Allah yang menyelamatkan. Yesus terus menerus menyatakan kasihNya dan kehadiranNya dalam dan melalui sakramen-sakramen yang telah kita terima.
Kiranya dalam dan melalui sakramen-sakramen itu kita akan selalu bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang telah dan senantiasa melimpahkan rahmat dan berkatNya kepda kita. Kiranya kita tidak perlu termasuk dalam kesembilan orang kusta yang telah menjadi sembuh itu dan tidak kembali untuk bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan. Semoga kita adalah orang yang tahu berterimakasih seperti si kusta dari Samaria yang telah disembuhkan itu. Semoga kita juga menjadi lebih kuat dan ulet menghadapi tantangan dalam kehidupan ini dan bersedia membuka hati kita untuk selalu merasakan kehadiran Allah yang selalu berjalan bersama kita dalam ziarah hidup ini. Amin.