MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA
MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA
(Kejadian 3;9-15, 20; Efesus 1:3-6, 11-12; Lukas 1:26-38)
Setiap manusia hidup selalu dalam keterancaman, baik dalam skala kecil maupun besar. Bayi yang baru saja lahir (umumnya) langsung menangis karena merasa terancam hidupnya setelah 9 bulan merasa nyaman dalam rahim ibunya. Seorang pelajar merasa terancam bila tidak dapat mengerjakan ujian. Seorang pemuda/i terancam karena men-jomblo tanpa akhir. Orang yang bekerja takut dan terancam apabila di PHK. Orang yang hidup berumah tangga khawatir apabila pasangannya tidak setia. Yang usianya sudah senja mengalami ketakutan akan kematian karena merasa belum berbuat banyak untuk Tuhan dan sesama. Situasi keterancaman ini membuat manusia merasa butuh jaminan yang dapat membuatnya merasa aman dan nyaman dalam menjalani hidupnya.
Dalam bacaan Injil hari ini, Bunda Maria menunjukkan sikap iman yang mengagumkan kita. Secara manusiawi, tentu saja Bunda Maria sangat takut dalam menghadapi kenyataan bahwa dia harus mengandung sementara ia belum bersuami. Dia sangat sadar akan resiko yang bakal dialaminya, yaitu akan dirajam (dilempari batu sampai mati) karena dituduh berbuat cabul. Ia juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskan kepada orang banyak (terutama kepada Yusuf tunangannya) bahwa dia sedang mengandung dari Roh Kudus. Maria sadar (sesadar-sadarnya) bahwa sangat sulit baginya untuk dapat menjadikan orang percaya akan penjelasannya.
Dalam situasi yang masih gelap, Bunda Maria berani mempercayakan hidupnya kepada Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” ay 38. Inilah sejatinya yang dinamakan IMAN, yaitu PERCAYA MESKIPUN MASIH GELAP (TIDAK JELAS). Orang belum dikatakan beriman secara mendalam bila mengatakan, “Aku percaya Tuhan akan menjamin hidupku dan tidak akan membuat aku kelaparan”, sementara simpanan uangnya ratusan miliar dan bisnisnya yang beraneka ragam. Orang demikian merasa aman bukan karena beriman, tetapi karena sudah jelas bahwa jaminan uangnya nggak habis hingga 7 turunan.
Barangkali kita pernah atau masih dan sedang mengalami situasi yang mirip dengan yang dialami Bunda Maria. Kita menghadapi pengalaman yang sulit dan berat. Contohnya: Kita/anggota keluarga sakit bertahun-tahun dan telah berobat kepada berpuluh-puluh dokter namun tidak juga sembuh. Atau kita mendapatkan
anak difable dan tidak tahu lagi siapa yang akan merawatnya bila nanti orangtua semakin menua. Dalam situasi inilah iman kepercayaan kita diuji. Pengalaman-pengalaman itu menjadi ajang pembuktian, seberapa dalam iman kita. Di sini, Bunda Maria menjadi teladan kita untuk beriman kepada Allah. “Jadilah padaku seperti perkataan-Mu itu”. Artinya: “Jadilah kehendak-Mu, Tuhan, di dalam hidupku!”
Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa. Bagi kita umat Katolik, sesuatu yang khas yang membedakan kita, dari orang-orang Protestan adalah cinta dan penghormatan yang kita persembahkan kepada Bunda Yesus. Kita percaya bahwa Maria, sebagai Bunda Allah, sudah selayaknya memperoleh penghormatan, devosi dan penghargaan yang sangat tinggi. Salah satu dogma (ajaran resmi Gereja) Gereja Katolik mengenai Bunda Maria adalah Dogma Maria Dikandung Tanpa Dosa. Dogma ini menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus, dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sendiri harus dihindarkan dari dosa asal. Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci – sungguh-sungguh ”penuh rahmat”. Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam doa Salam Maria. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini,
Pada Hari Raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa dosa ini, kita diajak untuk meneladan Bunda Maria yang sungguh-sungguh percaya akan rencana dan karya agung Allah atas umat manusia. Kita diajak beriman kepada Allah seperti yang ditunjukkan oleh Bunda Maria dalam bacaan Injil hari ini. Berkaca pada sikap Bunda Maria, kita menyadari bahwa: beriman atau berpasrah kepada Tuhan itu tidak sama dengan melepaskan masalah dan membuat semua masalah menjadi beres. TIDAK! Seperti Bunda Maria, ia percaya namun tetap harus berjuang menghadapi semua tantangan. Masalah tetap ada, namun orang yang beriman mempunyai nilai plus yaitu harapan bahwa akan tiba waktunya, semua kepercayaannya dibayar lunas oleh Allah. SEBAB IMAN TIDAK PERNAH MENGECEWAKAN!
Marilah kita memohon rahmat Tuhan secukupnya, agar kita dimampukan untuk dapat beriman didalam perjuangan hidup kita setiap hari, meski masih gelap sekalipun. Tuhan memberkati.