KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN
KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN*
Minggu, 10 Desember 2017
Hari Minggu Adven II
[Yes. 40:1-5,9-11; Mzm. 85:9ab-10,11-12,13-14; 2Ptr. 3:8-14; Mrk. 1:1-8]
KARENA YOHANES PEMBAPTIS TIDAK BUTUH ‘INSTA-STORY’!
Orang jaman sekarang, mudah sekali ‘terjebak’ untuk mencari cara instan untuk populer. Paling mudah ya lewat media sosial. Media sosial sekarang bukan sekedar berfungsi mengunggah ‘kata dan gambar’, namun juga cerita dan permasalahan. Sekarang itu ada yang namanya ‘insta-story’ (bagian aplikasi dari INSTAGRAM), yang bisa menggambarkan suasana hati, keberadaan, siapa yang berada di samping kanan kiri kita, apa yang kita lakukan, secara ‘real time’, bahkan ada aplikasi untuk ‘siaran langsung’, sehingga seolah siapa pun kita beserta yang kita alami, serasa ‘harus diketahui’ oleh banyak orang. Mungkin, orang jaman sekarang takut menjadi ‘anonim’, menjadi orang yang tak dikenal, sehingga media sosial, tentu menjadi ‘senjata’ yang ampuh dan efektif, untuk ‘memperkenalkan diri’ kepada dunia, tentang siapa diri kita. Saya kadang merasa geli kalau liat ‘insta-story’ isinya adalah curahan hati, atau malah permasalahan pribadi, seolah-olah orang yang melihatnya, bisa membantu menyelesaikan. Ah, paling ya cuma ingin mendulang ‘like’ saja, tapi menyelesaikan permasalahan orang apa cukup dengan memberi ‘like’ dan kemudian pergi. Itulah bahayanya! Orang pun jadi punya empati yang ‘palsu’, karena dalam media sosial, kadang kenyataan disamarkan, bahkan dipalsukan: perut gendut bisa tampak langsing, tak punya alis bisa jadi punya alis tebal menikung, kulit coklat bisa jadi hitam. Ya, fobia (ketakutan) pada ‘anonimitas’ inilah yang membuat orang ‘menghalalkan segala cara’ demi bisa eksis (kata emak-emak jaman ‘now’), demi bisa populer, demi bisa terkenal, demi bisa meraih simpati.
Sambil merenungkan itu semua, kita bisa belajar dari sosok Yohanes Pembaptis, yang menurut saya unik dan menarik. Pertama, dia berkarya sedemikian singkat, karena kita bisa cek di dalam Kitab Suci, bahwa tak banyak ayat yang berhasil mengkisahkan hidup dan karyanya. Dikisahkan bahwa padang gurun yang sepi adalah tempat nongkrongnya. Dan, yang mungkin agak menyesakkan, pekerjaan dan karyanya, barangkali akan segera dilupakan orang, karena setelah dirinya akan hadir Sang Mesias, Yesus Kristus, yang segera masuk ‘panggung’ sejarah keselamatan dunia. Yohanes, dari statistik jenis apa pun, tentu tidak ada bandingannya dengan pria dari Nazareth itu. Dia sekedar ‘suara’ yang akan mengantar kedatangan Yesus. Kalau Yohanes Pembaptis hidup jaman sekarang, tentu bisa jadi dia tidak pernah punya akun media sosial, sebab hanya untuk mencari popularitas saja, dia tak sempat memikirkannya. Yang ada dalam benaknya adalah bagaimana orang-orang zaman itu dapat siap secara lahir batin menyambut kehadiran Sang Juru Selamat. Kita patut menilik pada diri sendiri, bahwa kecenderungan kita adalah soal penampilan. Segala bentuk pelayanan kita: mengajar sana-sini, rapat sana-sini, kerja sana-sini, dapat diakui publik dan semesta. Padahal kita tahu bahwa Yesus saja tidak demikian. Kadang Yesus saja, suka bergurau dengan cara-cara yang justru tidak populer, cara-cara yang tersembunyi, cara-cara yang tak terduga, cara-cara yang tidak perlu dimasukkan ‘insta-story’, namun tetap efektif dan berdaya-guna bagi keselamatan dunia. Jadi, mari kita bersyukur jika karya kita nampak sepele dan tak berguna di mata manusia, karena yang terpenting Tuhan menggunakannya bagi jalan menuju keselamatan manusia.
Selamat pagi, selamat berhari Minggu, selamat berkumpul dengan keluarga, selamat mengumpulkan semangat sebelum esok berkarya lagi. Tuhan memberkati akhir pekan anda semua. GBU. Berkah Dalem.