PATUH DAN TAAT
*KAWAN-KAWAN SEPERJALANAN*
Minggu, 24 Desember 2017
HARI MINGGU ADVEN IV
[2Sam. 7:1-5,8b-12,14a,16; Mzm. 89:2-3,4-5,27,29; Rm. 16:25-27; Luk. 1:26-38]
PATUH DAN TAAT
Meneruskan kembali kisah-kisah ‘legend’ kebandelan dan ke-mbeling-an saya sewaktu kecil. Sedari kecil, saya ini termasuk orang yang suka membantah perkataan orang tua, bukan secara frontal tapi secara sembunyi-sembunyi. Kalau mereka suka meminta untuk tidur siang, nah saya tidak akan membantah langsung, tapi bantahan saya terwujud dengan ‘sembunyi-sembunyi’ pergi dari rumah dan dolan ke tempat teman. Nah, suatu hari, dengan ‘modus’ yang sama, saya bersama beberapa teman, pergi ke sungai kecil di belakang rumah. Dulu waktu masih di Muntilan, sungai kecil itu jarang dijamah orang karena dalam dan banyak batu-batunya. Dan, apa yang terjadi? Siang itu, saya hampir tenggelam di sungai karena mengira bahwa sungainya dangkal tapi ternyata dalam, dan dasarnya memang tidak bisa berenang. Orang tua juga khawatir, dan sesampai rumah mereka hanya bilang: “Uh, dikasih tahu orang tua, gak manut sih!” Semenjak itu, saya selalu manut saja apa pun perkataan orang tua, karena bagi saya mereka selalu mengarahkan saya pada sesuatu yang baik.
Sosok Maria adalah sosok yang ‘manut’ dalam menyambut kabar dan ketetapan Allah bagi dirinya. Anak yang dikandungnya adalah Anak yang disebut sebagai ‘yang kudus dari Allah’. Namun, ketetapan itu terasa tidak mudah untuk dijalani, karena segala sesuatunya berjalan dengan begitu cepatnya. Namun, Maria memilih untuk taat dan ‘manut’ pada kehendak Allah atas diri dan hidupnya. Menjadi ‘manut’ itu kadang tidak mudah karena kita cenderung mempercayai diri sendiri, dan segala sesuatu yang kita percayai sebagai kebenaran. Namun, kadang kehendak Allah, ‘meruntuhkan’ dan menghancurkan pengetahuan kita itu dengan sesuatu yang kadang mengejutkan dan membutuhkan jawaban segera. Dan Maria memilih menjawab ‘ya’ pada sesuatu yang sebenarnya tidak mudah untuk dipercayai dan tidak mudah dinalar dengan logika. Maria mengajarkan kita untuk patuh dan taat pada rencana Allah atas hidup kita, karena dengan begitu kita juga sedang merintis dan mewujudkan karya besar Allah dalam diri kita dan dalam diri semua orang di sekitar kita.