Pertobatan terus menerus, mengidentifikasi diri sendiri
Pertobatan terus menerus, mengidentifikasi diri sendiri
Yoh 1, 19-28
Dalam lima perintah Gereja, dikatakan setidaknya dua kali menerima sakramen tobat dalam setahun sebagai masa persiapan menyambut perayaan Natal dan Paska. Namun bukan berarti pertobatan itu dilakukan dua kali dalam setahun, melainkan pertobatan itu perlu dilakukan terus menerus. Demikianlah seruan bacaan Injil yang mengkisahkan pribadi Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan. Seruan pertobatan itu selalu aktual bukan hanya sebelum perayaan Natal dan Paska, tetapi dalam keseharian hidup kita. Bacaan Injil hari ini mengundang kita untuk merenungkan pribadi Yohanes Pempabtis. Ia mengungkapkan identitas dirinya secara jelas ‘siapakah dirinya yang sebenarnya’. Dia mempunyai misi untuk mempersiapkan kedatangan
Mesias, yaitu Yesus Kristus. “Akulah suara yang berseru-seru di padang gurun : persiapkanlah jalan bagi Tuhan” (Yoh 1,23). Ia pun menemukan dirinya tak pantas di hadapan Sang Mesias. Yohanes Pembaptis dengan rendah hati mengenal identitas dirinya : “Aku pun tidak pantas membuka sandalnya” (Yoh 1,27). Pertobatan senantiasa berawal dari mengenali identitas dirinya di hadapan Allah. Setelah mengenali identitas diri, dan selanjutnya mengikuti apa yang dikehendaki Allah dalam hidup. Itulah proses dari suatu pertobatan yang sesungguhnya. Itulah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis, pertobatan terus menerus.
«Yesus Juru Selamat kami, ajarilah kami mengenal diri kami, mengenal kasihMu dalam hidup kami. Jadikanlah kami hamba yang rendah hati dan siap Kau utus menjadi utusanMu utnuk mewartakan Kabar Gembira dan pengharapan »