Baptis!
Renungan Lubuk Hati
8 Januari 2018, Markus 1:7-11
Baptis!
Hari ini kita memperingati Pembaptisan Yesus. Yohanes membaptis Yesus dengan air yang melambangkan kehidupan baru dan Allah Bapa menyatakan Diri-Nya sebagai Tritunggal dengan suara yang terdengar bagi banyak orang dan Roh Kudus yang menyerupai burung merpati.
Sedikit bercerita! Karena tugas saya sebagai diakon di Paroki St. Servatius, Bekasi di tahun 2011, saya membaptis banyak bayi dan anak. Setiap bulannya ada sekitar 20 anak yang saya baptis. Yang saya rasakan adalah sebuah kegembiraan batin tatkala mencucurkan air ke kepala bayi-bayi yang, biasanya, membuat mereka menangis karena dinginnya air yang membangunkan mereka dari tidur mereka. Tangisan bayi-bayi itu menghasilkan senyum sukacita bagi saya tapi juga seringkali bagi kedua orang tua bayi yang melihat bahwa tangisan bayi itu sebagai pertanda akan sesuatu yang baik. Beberapa orangtua bahkan tertawa karena melihat bayi-bayi mereka terbangun akibat dinginnya air baptisan. Tapi, lebih dari itu, para orangtua juga bergembira karena mereka mampu memberikan apa yang paling berharga dalam hidup mereka, yakni iman mereka. Tindakan membaptis bayi di dalam Gereja Katolik adalah sebuah upaya yang menunjukkan bahwa keselamatan setiap orang dimulai dari iman orangtuanya, dari keluarganya.
Belajar dari peristiwa pembaptisan Yesus, kita dapat merefleksikan bahwa apa yang tampak dalam hal-hal luaran seperti air dan gerak-gerik tangan orang yang membaptis menunjukkan sesuatu yang dipercayai oleh yang membaptis, oleh yang melihat pembaptisan, dan juga oleh yang dibaptis bila ia adalah orang dewasa. Gerak iman itu selalu datang dari “dalam” menuju ke “luar.” Pembaptisan itu melambangkan perutusan karena iman itu sesuatu yang berada di “dalam” tetapi harus diekpresikan dan dikerjakan dalam hal-hal yang bersifat “luaran.” Kita bisa belajar dari Yohanes Pembaptis yang tidak merasa layak untuk melayani Tuhan, tapi karena imannya, ia melakukan pelayanan kepada Yesus dan banyak orang. Pembaptisan menghasilkan perutusan, dan perutusan menghasilkan pelayanan. Maka di hari pembaptisan Tuhan ini, ada baiknya kita bertanya kepada diri kita lagi:
- Kapan terakhir kali saya merasakan dan mendengarkan suara Tuhan yang berseru kepada saya, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”?
- Sebagai orang yang dibaptis, apa yang sudah saya lakukan bagi Tuhan, apa yang sedang saya lakukan bagi Tuhan, dan apa yang akan saya lakukan bagi Tuhan?