MENJADI PEWARTA INJIL

MENJADI PEWARTA INJIL

 

Rabu, 24 Januari 2018

MENJADI PEWARTA INJIL

Mrk 4:1-20

Allah mencurahkan kasihNya kepada setiap pribadi manusia. Namun tidak semua orang menyadarinya. Mengapa ada yang peka dan mengapa ada yang lambat untuk menangkap gerak kasih Allah? Kasih Allah yang diterima olah manusia, kita sekalian, adalah benih-benih iman yang akan terus tumbuh dan berkembang dalam diri manusia. Pertumbuhan benih iman tersebut tergantung dari tanggapan manusia yang menerima benih iman yaitu Kasih tersebut.

Mereka siap menerima iman maka ia akan cepat bertumbuh dan menghasilan buah dalam perbuatan kasih. Sebaliknya jika manusia tidak siap maka benih iman tidak bisa bertumbuh dengan baik. Bagaimana agar manusia bisa lebih siap menumbuh-kembangakan Kasih Allah tersebut. Kesiapan terletak pada sikap hati atau disposisi hati manusia. Jika manusia menempatkan hatinya sebagai hamba yang rendah hati dihadapan Allah maka manusia akan siap untuk bekerja sama dengan rahmat-NYa.

Hati manusia bagaikan tanah dimana benih iman ditaburkan. Oleh karena itu jika manusia mau mengosongkan dirinya dari segala kesombongan, kejahatan dan kebencian, maka manusia akan bisa melipat-gandakan iman, harapan dan kasih dalam hidupnya. Buah-buah iman berupa; harapan, suka-cita, kasih, kebenaran, kejujuran akan menjadi sikap hati dan terlaksana dalam kehidupan sehari-hari.

Kesaksian hidup orang beriman pada akhirnya akan menggerakan banyak orang untuk berbuat baik; salaing menghargai, mengasihi, jujur, setia, adil, dsb. Kita sekalian diutus untuk “pergi” mewartakan Injil Allah. Oleh karena itu menjadi suatu tantangan dan perjuangan kita untuk rendah hati, berserah dan memberikan diri untuk tugas panggilan tersebut. Tuhan memberkati.

Comments are closed.
Translate »