Anak: Sebuah Berkat
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
2 Februari 2018
Lukas 2:22-40
Kita berbeda di sebuah Supermall kehidupan dimana perbedaan antara kebutuhan dan keinginan secara praktis telah kabur. Mentalitas Supermall ini akhirnya juga mempengaruhi dan merubah bagaimana kita lihat apa artinya memiliki keluarga dan anak-anak di zaman ini. Kita mulai mendikotomi kehidupan berkelurga, hanya mengambil bagian yang paling menyenangkan dan menghapus bagian tidak diinginkan saja. Kita hanya ingin menikmati seks tapi kita menolak tanggung jawab untuk memiliki anak. Kita ingin memiliki pasangan yang cocok, tetapi menolak hidup berkomitmen.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kita cenderung untuk melihat kehamilan hanya dari sudut biologis dan bahkan ekonomis. Kehamilan terjadi ketika sel telur dibuahi oleh sperma, dan dengan aman melekat pada rahim ibu. Dengan demikian, mengetahui perilaku organ seksual kita, kita pun bisa memanipulasi mereka untuk mencapai prinsip dasar ekonomi: mendapatkan kepuasan semaksimal mungkin, dengan pengorbanan seminimal mungkin. Semuanya dapat direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan kenyamanan kita. Bahkan kita dapat mengatur tanggal yang tepat untuk kelahiran anak kita dan dengan cara yang hampir tanpa rasa sakit. Mungkin sampai pada titik dimana, seperti memilih telepon selular, kita juga dapat menentukan fitur-fitur apa yang kita inginkan pada anak kita saat mereka lahir. Akan lebih cantik jika anak saya memiliki mata biru langit!
Hal ini membawa kita kepada konsekuensi yang mengerikan. Bagaimana jika kehadiran anak tersebut “tidak terencana”? Bagaimana jika seorang wanita yang sibuk dengan karirnya tiba-tiba hamil? Bagaimana jika karena ‘kecelakaan’, seorang gadis remaja menemukan hasil positif pada tes kehamilannya? Bagaimana jika seorang wanita cantik mengalami pelecehan seksual dan menemukan dirinya hamil? Apakah kita masih menganggap anak ini sebagai berkat atau penyusup dalam hidup kita yang semestinya untuk dihancurkan?
Kita hadapi sekarang salah satu masalah yang paling rumit dengan segala kompleksitas. Apa artinya untuk percaya bahwa seorang anak adalah berkat dalam situasi dilematis seperti ini? Tidak mudah untuk dijawab, tetapi kita bisa merenungkan Injil hari ini. Maria dan Yusuf mempersembahkan Yesus di Bait Allah. Apakah Maria dan Yusuf melihat Yesus kecil sebagai beban karena kehadiran-Nya tidak direncanakan dan membuat hidup mereka susah? Lalu, kenapa Maria dan Yusuf tetap memberikan yang terbaik bagi Yesus, walaupun Dia tidak direncanakan? Jawabannya tidak mudah, dan ini kesempatan bagi kita untuk merenung lebih dalam.
Fr. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP