BUKA DULU TOPENGMU

BUKA DULU TOPENGMU

Renungan: Selasa, 27 Februari 2018

Yesaya 1:10.16-20

Matius 23:1-12

BUKA DULU TOPENGMU

Kita sebagai manusai kerap kali dihadapkan pada sifat bawaan yang dimiliki oleh sebagian besar diri kita. Kita mempunyai kecenderungan untuk selalu dipandang baik, selalu unggul, dan akhirnya selalu dihormati dalam pergaulan. Banyak hal coba kita lakukan untuk mendapatkan pengakuan atas kualitas diri kita, namun sayangnya ada juga yang hanya “berpura-pura baik” agar dipandang unggul oleh orang lain. Banyak orang akan memoles dirinya, memakai “topeng”, dan “riasan” agar apa yang terlihat dapat mendatangkan pujian dan lalu kita semakin dihirmati.

Hari ini Yesus menegur orang-orang Farisi yang dengan usaha “memoles diri” berharap akan mendapatkan penghormatan lebih dari orang lain. Mereka berusaha untuk menampilkan diri sebaik mungkin, seindah mungkin, sesaleh mungkin, padahal praktek hidupnya tidak sungguh-sungguh menceriminkan apa yang berusaha mereka tampilan ini. Tidak hanya secara fisik, orang Farisi juga kerap kali berusaha dipandang baik lewat kata-kata dan ajaran yang mereka ucapkan, padahal apa yang mereka ucapkan hanya berhenti di mulut saja dan tidak ada tindakan nyata atas ajaran yang disampaikan. Satu yang mereka harapkan dari usaha memoles diri, yaitu pengormatan. Padahal Yesus sendiri meminta agar; “siapa yang terbesar di antara kita, hendaklah ia menjadi pelayan. Barangsiapa meninggilan diri akan direndahlan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan”. Kita diajak pertama-tama bukan sebagai pribadi yang berusaha menonjolkan dan meninggikan diri, namun kita justru diajak untuk mau menjadi pelayan bagi orang lain lewat kelebihan dan bakat yang ada.

Kalau hari ini yang Yesus tegur adalah orang Farisi yang suka memoles diri, berkata-kata indah dalam ajaran-ajaran, menampilkan diri seolah mereka begitu suci; jangan-jangan kita juga sama seperti mereka. Jangan-jangan kita selama ini juga memakai topeng dan menampilkan diri “seolah-olah baik” padahal tidak sungguh-sungguh baik. Jangan-jangan selama ini kita berusaha untuk selalu dihormati dan enggan untuk melayani. Semoga hari ini kita mau membuka topeng-topeng kita, membuangnya, dan akhirnya mau menjadi pelayan bagi sesama.

Comments are closed.
Translate »