“JANGAN RINDU. BERAT. KAMU ‘GAK AKAN KUAT!”

“JANGAN RINDU. BERAT. KAMU ‘GAK AKAN KUAT!”

Minggu, 11 Maret 2018
HARI MINGGU PRAPASKAH IV
[2Taw. 36:14-16,19-23; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Ef. 2:4-10; Yoh. 3:14-21]

“JANGAN RINDU. BERAT. KAMU ‘GAK AKAN KUAT!”

Salah satu ‘quote’, yang akhir-akhir ini digandrungi oleh kawula muda, adalah kutipan dari novel: Dilan, karya Pidi Baiq, yang bunyinya begini: ‘Jangan rindu. Berat. Kamu ‘gak akan kuat, biar aku saja!’ Kata-kata itu begitu menyihir, sampai-sampai apa pun suasananya, lalu dengan mudahnya dikait-kaitkan dengan ‘kata-kata sakti’ yang bagi sebagian orang, disebut romantis ini. Namun, sebegitu kuat kah yang namanya ‘rindu’, sehingga membuat orang merasa berat jika mesti melaluinya? Rindu kadang berarti sebuah ‘ruang’ yang tercipta akibat sebuah jarak. Konkretnya, rindu adalah konsekuensi logis dari jarak yang terbentang antara dua orang yang memiliki relasi yang dekat, ah tidak, istimewa, atau sejenisnya. Intinya, rindu akan tercipta, kalau dua orang yang ‘saling merindu’ memiliki jenis relasi yang berkualitas, bukan ‘ecek-ecek’ apalagi ‘receh’. Kalau orang yang pernah jatuh cinta, rindu adalah bahasa yang paling sering terungkap, kalau sehari, sejam bahkan sedetik tidak bertemu dan bertatap muka. Ya, the power of ‘rindu’ ini, tampaknya memang sesuatu yang dahsyat, sehingga kadang orang-orang yang dilanda rindu, selalu berharap untuk ‘memupus’ atau bahkan mengakhiri rindu itu dengan sebuah kata: perjumpaan. Ya dalam perjumpaan, rindu akan berakhir.

Kalau perasaan rindu yang tercapai antara manusia dan manusia saja bisa sedemikian hebat, bisa dibayangkan kalau rindu itu tercipta karena relasi yang dekat antara Allah dan manusia. Benarkah kita ini selalu merindukan Allah? Jangan-jangan rindu itu tak pernah tercipta, karena relasi kita dengan Allah tak pernah sedemikian erat. Jangan-jangan rindu itu tak pernah ada, karena relasi kita dengan Allah yang tak pernah berkualitas. Padahal, kalau anda semua ingin tahu, Allah juga merindukan manusia. Allah ingin selalu dekat-dekat dengan kita, karena Allah memang sayang tanpa memandang siapa diri kita. Itu sangat jelas tergambar, kalau kita membaca ‘quote’ Injil hari ini: “…karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan hidup yang kekal”. Betapa rinduNya Allah pada manusia, sampai-sampai PutraNya yang terkasih, turun ke dunia, bahkan mengalami hidup dan penderitaan, demi supaya semua manusia dapat selamat tanpa kecuali. Maka, kalau sudah begini, apakah kita lalu membiarkan rindu Allah ini ‘bertepuk sebelah tangan’? Tentu saja tidak!

Ya, rindu itu memang berat! Bisa jadi karena dua kemungkinan. Rindu terjadi karena dekatnya pribadi yang kita rindukan, atau karena memang kita tak pernah merasa rindu sama sekali. Anda termasuk yang mana? Hidup kita sehari-hari adalah hidup yang mendapat energi dari kekuatan ‘rindu’. Jadi, makin besar rindu yang ada, maka makin besar energi yang kita terima untuk menjalani hidup. Semoga, kita pun selalu punya cara untuk selalu merasa rindu, kepada Allah tentu saja, sehingga rindu itulah yang menjadi kekuatan, semangat, motivasi dan energi bagi kita dalam menjalani hidup, mewartakan kebaikan dan keselamatan. Tiada rindu yang jauh lebih berat, daripada rindu kita kepada Allah, karena rindu Allah kepada manusia lah, yang menjadi penyebabnya.

Comments are closed.
Translate »