Kamis Putih

Kamis Putih

Image result for HOly thursday

Memaknai ulang spiritualitas pelayan

Renungan Kamis Putih

By Antonius Galih Arga Pr

Pengajar Kitab Suci Perjanjian Baru – Pontifical Faculty of Theology, Yogyakarta

 

Dunia kita sekarang ditandai dengan kesadaran baru kalau “good service” is “good money”. Industri pariwisata disebut sebagai “new gold income” karena pendapatan orang meningkat drastis karena service yang diberikan baik. Semakin orang diberi service baik, semakin o rang mau membayar mahal. Bahkan seorang pekerja Gojek juga memberi service yang memuaskan pada pelanggannya di Yogya. Saya diberi penutup muka agar tidak menghirup polusi, sesudah turun dari boncengan, dia masih memberi saya tisu basah untuk mengelap keringan dan wajah. “Jangan lupa beri 5 star ya Pak untuk review!” Tak bisa dipungkiri hidup kita sekarang tergantung dari review online dan servise yang diberikan. Pasti kita akan membaca review dulu sebelum membeli barang online dan berfikir ulang saat service yang diberikkan tidak baik.

 

Bacaan Injil hari ini menawarkan semangat pelayanan yang lebih mendasar dari sekedar service yang baik untuk orang lain. Setelah selesai membasuh kaki para rasul, Yesus berkata, “Kamu menyebut aku itu guru dan Tuhan, dan katamu itu tepatse bab memang Akulah gurudan Tuhan” Yesus menekankan bahwa Dia adalah Tuhan dan guru, dua gelar Tuhan dan Guru disatukan dalam teks ini. Kita memahami guru adalah orang yang memberi pengetahuan, mengajari anak-anak kepandaian, dan terlebih orang yang membawa kita pada pengetahuan baru. Unsur yang ditekankan disini adalah Tuhan sebagai guru, pengajar dan memberi suatu ajaran baru.

 

Dia meneruskan, “Jikalau Aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu.” Kalimat ini punya makna sesuatu hal yang tidak wajar dilakukan oleh seorang guru. Sebuah anomali tindakan yang tidak bisa dilakukan, tidak umum dan bukan hal yang wajar. Ada  pemaknaan status orang yang terhormat dari kata “Guru dan Tuhan” tapi melakukan hal yang biasa dilakukan oleh orang upahan. Dalam tradisi Yahudi, tuan rumah akan mengupah orang-orang bawahannya untuk membasuh kaki dan tangan para tamu yang datang ke rumahnya. Yesus disini lebih dari seorang tuan rumah, dia adalah Guru dan Tuhan. Gambarkanlah kekontrasan itu dalam konteks kita sekarang seorang pejabat yang ikut membersihkan sampah. Bukan dalam konteks seremoni, tapi tindakah lumrah dan harian. Bukan agar dapat review baik di instragram atau agar mendapat jempol banyak! Tapi sungguh tulus dan kehendak ingin melakukan hal itu.

Sesudahnya Yesus berkata, “Maka kamu pun wajib saling membasuh kaki sebab aku telah memberikan suatu teladan kepadamu.” Yohanes menakankan bahwa membasuh kaki orang lain adalah “obligatory,” sebuah kewajiban dan keharusan yang harus dilakukan orang seorang murid. Perintah Yesus ini bukan hanya suatu contoh yang bersifat mana suka. Boleh dilakukan, tidak juga tak apa! Semangat pelayanan adalah sebuah bagian tak terpisahkan dari kemuridan. Kalau pelayanan itu tak ada, kemuridan Kristiani kehilangan maknanya. Identitas kemuridan salah satunya ada dalam tindakan pelayanan dalam usaha membasuh kaki orang lain.

Ada kata yang menarik yaitu “saling membasuh”. Artinya, semangat itu harus ada dalam diri setiap orang yang kita layani juga. Tidak hanya kita yang menjadi murid. Pelayanan yang kita berikan pada orang tujuannya tidak hanya per se melayani tapi membuat orang yang kita layani juga mau menjadi pelayan bagi orang lain. Inilah semangat baru yang ditawarkan oleh Injil Yohanes hari ini. Kita perlu bertanya pada diri sendiri, “Apakah pelayanan selama ini juga membuat orang yang kita layani mau jadi pelayan juga?”  Apakah orang yang kita layani juga punya jiwa berbagi?  Kalau hal itu belum terjadi, berarti kita belum melaksanakan perintah “saling membasuh.”

Bagian akhir dari Injil hari ini berkata, “supaya kami juga berbuat seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Kehendak orang memberi service dalam Yohanes didasarkan karena kita sendiri telah dibasuh kaki kita oleh Yesus sendiri. Spiritualitas seorang murid yang melayani hidup dari pengalaman kalau dia sudah disentuh dan mengalami Yesus yang telah membasuh jiwanya secara pribadi. Kehendak untuk melayani bukan pertama-tama karena ada unsur review atau balasan. Tapi karena pertama, kita sendiri sudah merasakan Yesus  yang mengasihi kita lebih dahulu.

Biarlah rantai pelayanan ini bertumbuh dalam hidup kita dan orang-orang yang kita layani. Bukan hanya kita saja yang melayani, tapi membuat orang yang kita layani juga mau menjadi pelayan sesama. Itulah identitas kemuridan Kristiani yang kita rayakan dalam perayaann Kamis Putih hari ini. Amin.

Comments are closed.
Translate »