Senin Oktaf Paskah

Senin Oktaf Paskah

Renungan oleh Fr. Diakon Yusuf Widiarko

Senin Oktaf Paskah

Kis 2:14.22-32; Mat 28:8-15

 

MANUSIA PASKAH: MENGABARKAN, BUKAN MENGABURKAN!

Satu dua tahun terakhir ini, ada sebuah istilah asing yang semakin familiar dan jamak dipakai dalam pergaulan hidup sehari-hari masyarakat Indonesia. Istilah yang saya maksud itu adalah hoax. Istilah ini umum dipakai untuk menyebut suatu berita palsu atau berita bohong. Di era dahsyatnya pengaruh teknologi informasi dalam hidup bersama seperti saat ini, kemuculan dan penyebaran hoax memang sangat mungkin terjadi. Berita-berita palsu amat mudah diproduksi dan dijual laris manis di masyarakat dunia digital. Pun demikian, hoax sebenarnya sudah muncul sejak zaman dahulu. Hoax atau berita palsu selalu membayangi berita-berita benar dalam sejarah hidup manusia.

Injil hari ini menunjukkan bagaimana kebenaran selalu dibayangi oleh kebohongan atau kepalsuan. Berita benar selalu dibayangi oleh hoax atau berita palsu. Kebenaran yang terjadi adalah Yesus bangkit dari kematian. Kebenaran ini lalu dialami oleh dua kubu yang berbeda, yaitu kubu para murid dan kubu para imam. Para murid yang mengalami Yesus yang bangkit mewartakan kebenaran itu sebagaiamana adanya bahwa Yesus sungguh telah bangkit. Bahkan, mereka mewartakan kebenaran itu dengan sukacita yang besar.

Sementara itu, kubu para imam yang dipenuhi rasa benci tiada ujung pada Yesus tidak bisa menerima kebenaran itu. Mereka justru merancang sebuah berita tandingan untuk mengiringi warta kebangkitan Yesus. Maka, berita palsu atau hoax pun dibuat dan dilempar ke publik, yaitu bahwa jenazah Yesus dicuri oleh para murid saat para penjaga makam sedang tidur. Dua berita itu, antara yang benar dan yang palsu, sama-sama tersiar ke mana-mana bahkan sampai sekarang!

Dalam hidup harian kita saat ini, berita-berita benar selalu dibayangi oleh berita-berita palsu atau hoax. Setiap hari kita diguyur berjubel berita melalui media-media komunikasi yang kita akses. Dalam hal ini, keluhuran budi kita diuji untuk melihat dan memilah-milah mana berita yang benar dan mana yang palsu. Dalam hal ini pula, keluhuran hati kita diuji untuk memilih berdiri di kubu kebenaran seperti para murid atau berdiri di kubu kepalsuan seperti para imam dan ahli taurat.

Mari menjadi Manusia Paskah dengan mengabarkan kebenaran, bukan mengaburkan!

Comments are closed.
Translate »