Apa Rencana Allah untuk Hidupku?
Renungan Jumat
Bacaan I Kis 9: 1-20
Bacaan Injil Yoh 6: 52-59
Oleh Fr. Diakon IA
Kisah pertobatan Paulus bisa dikatakan sebagai peristiwa menakjubkan, bahwa Paulus pada akhirnya mengalami perubahan total dalam hidupnya. Atas kisah refleksi Paulus itulah, kita bisa menegaskan tentang kemahakuasaan Allah. Allah selalu punya rencana untuk segenap hidup manusia. Allah yang mahakuasa bukanlah sebagaimana raja yang hanya duduk di singgasana, atau pemimpin organisasi yang menunggu mendapat laporan dari bawahan; tetapi Allah senantiasa sudi bergumul dengan manusia, merelakan diri untuk ikut solider atas perjalanan hidup manusia demi terciptanya suatu rencana bagi setiap manusia.
Maka, kita patut bertanya, “Tuhan, apa rencanamu untuk hidupku? Untuk hidup hari ini, bulan depan, tahun mendatang? Rencana Allah pasti sangat menumbuhkan kita menuju kematangan, baik itu secara moral, iman atau spiritual. Bukan berarti bahwa rencana Allah itu mudah diterima begitu saja. Tengok saja Paulus yang mati-matian harus mengalami penderitaan selama tiga hari dalam kebutaannya. Justru dengan penderitaan itulah, sesungguhnya karakter dan originalitas diri kita sedang direbus untuk akhirnya menjadi matang. Kematangan itu berguna sebagai persembahan diri untuk rela menjadi alat-Nya. Setiap diri kita mempunyai peran masing-masing, sejalan dengan rencana Allah itu. Pertanyaannya adalah bagaimana kita tetap mampu bertahan dalam proses pematangan diri yang terkadang terasa kurang nikmat itu?
Jawabannya adalah dengan iman. Artinya, percaya kepada Allah adalah bahan baku utama untuk menyelaraskan diri ke dalam rencana Allah. Keutuhan iman kita mewujud dengan hadirnya Tuhan dalam diri kita melalui santapan rohani Tubuh-Nya sendiri. Hal ini memberi jaminan bahwa kita memperoleh hidup yang sesungguhnya. Dari Yesus sendirilah jaminan itu berasal, “Sesungguhnya, jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu”. Hidup di dalam diri artinya ada kesadaran untuk menjalankan hidup yang sesuai dengan rencana Allah. Maka, ketika dengan mantap hati seseorang menyambut Tubuh-Nya, seharusnya orang itu mengalami kedamaian batin dan mampu menikmati hidup, apapun situasinya.
Dengan menyantap Tubuh-Nya, kita juga diajak untuk turut serta berpartisipasi dalam rencana keselamatan Allah. Allah akan memercayakan suatu tugas kepada setiap orang sesuai dengan porsi dan kemampuan masing-masing. Maka, mari kita semakin merasakan betapa baiknya Allah karena telah melibatkan kita ke dalam rencana-Nya. Kita bersyukur sebab dengan menyantap Tubuh-Nya, kita senantiasa dikuatkan untuk menjalankan peran masing-masing dalam peziarahan hidup ini sehingga kita menjadi pribadi yang berguna untuk sesama, dan terlebih bagi kemuliaan Allah sebagaimana Paulus dijadikan alat pilihan Allah.