Karunia Pengertian (Understanding)
Rabu, 9 Mei 2018
Kisah Para Rasul 17:15,22 – 18:1
Mazmur 148
Yohanes 16:12-15
Dalam bacaan pertama hari ini, Paulus dan beberapa pengikutnya mengunjungi sebuah kota bernama Atena di Yunani. Dewi Atena, yang mana kota ini dinamakan, adalah salah satu dewi terpenting dalam kepercayaan Yunani Kuno. Atena adalah dewi kebijaksanaan, perang, peradaban, hukum, strategi, matematika, dan banyak hal lainnya. Ia tidak mempunyai ibu karena ia dilahirkan langsung dari kepala Zeus, pemimpin seluruh dewa-dewi Yunani. Penduduk kota Atena saat itu sangat terkenal sebagai orang-orang yang sangat ahli dalam ilmu filsafat. Saat ini pun, Atena menjadi ibukota negara Yunani.
Ketergantungan bangsa Yunani akan dewa-dewi mereka dan patung-patungnya sangat mengganggu pikiran Paulus. Sebagai seorang Yahudi sejati, ia berpegang teguh pada hukum Taurat yang melarang orang menyembah patung. Ia percaya bahwa hanya ada satu Allah, dan semua dewa dan dewi dalam kepercayaan-kepercayaan lain saat itu adalah berhala.
Di sini kita melihat kejeniusan Paulus dalam perjalanan misinya. Ia tahu bahwa orang-orang Atena sangat menghargai perdebatan filsafat. Ia juga mengenal betul seluk beluk kota Atena. Karena itu ia memulai debatnya dengan menyebut mezbah atau altar yang mereka persembahkan kepada “Allah atau Dewa yang tidak dikenal.” Ia menghargai semangat mereka dalam memuja dewa-dewi yang mereka percaya. Tetapi ia mencoba meyakinkan mereka bahwa yang mereka sebut “Allah yang tidak dikenal” itu adalah Allah pencipta langit dan bumi dan segala isinya. Dengan strategi semacam inilah Paulus bisa sukses menyebarkan ajaran Yesus. Ia tidak semena-mena menyerang bahwa semua kepercayaan mereka tentang dewa adalah hal yang buruk, tapi ia mencoba berbicara dengan “bahasa” atau budaya mereka.
Di Indonesia kita melihat bagaimana agama-agama besar bisa bertumbuh di tanah air kita karena ditanamkan seperti ini, yang kita sebut dengan istilah modern “inkulturasi.” Islam berkembang pesat karena peran besar para Walisongo yang bisa menyesuaikan ajaran Islam dengan budaya setempat, terutama di Jawa. Para misionaris Katolik dari Eropa setelah itu juga mencoba mengajarkan iman Katolik dengan inkulturasi budaya setempat. Kita percaya bahwa Tuhan lebih besar dari semua budaya atau kepercayaan. Ia bisa masuk ke dalam hati setiap orang melalui berbagai cara. Di sinilah karunia pengertian Roh Kudus bekerja secara unik di masing-masing orang.
Semoga dengan mempercayai kerja Roh Kudus, kita terlepas dari pikiran sempit bahwa setiap orang harus persis melalui jalan yang kita tempuh untuk bisa sampai kepada Tuhan. Apalagi jika ini menyangkut beda generasi dan beda budaya seperti yang banyak dialami oleh para orangtua Indonesia yang anak-anaknya lahir di negara lain, tempat mereka bermigrasi. Seringkali kita masih mencoba memaksakan atau paling tidak mengeluh tentang gaya hidup yang kelihatannya sangat bertolak belakang dengan pengalaman kita. Semoga karunia pengertian Roh Kudus selalu bekerja di dalam setiap orang, yang walaupun jalan hidupnya berbeda-beda, kita semua akan sampai kepada pengertian yang sama bahwa semua hidup kita berasalah dari Tuhan Allah.