Otoritas dan Jari Telunjuk
Lubuk Hati 2 Juni 2018
Mrk. 11:27-33.
Otoritas dan Jari Telunjuk
Saya masih mengingat pengalaman bertahun-tahun yang lalu ketika saya masih menjadi seorang Frater. Paling tidak ada dua orang mengalami “mujizat” kecil dari jari telunjuk kanan saya. Yang pertama, ketika saya memberkati seorang pemudi yang mencari pekerjaan dengan telunjuk kanan saya, dan esoknya dia mendapatkan panggilan kerja. Yang kedua, ketika saya menjumpai pasangan yang sudah menikah 3 tahun, namun belum dikarunia anak. Saya memberkati mereka dengan jari telunjuk kanan saya, dan satu bulan kemudian, saya mendapatkan kabar bahwa Sang Istri sudah mengandung. Ketika saya ceritakan ini kepada orang-orang, mereka meminta saya memberkati mereka dengan jari telunjuk saya, namun saya menjadi ragu karena bisa jadi dua hal itu kebetulan. Saya tak tahu apakah karisma jari telunjuk saya masih disediakan oleh Tuhan atau tidak. Tapi satu hal yang ada dalam pikiran dan hati saya, “Saya hanya tak mau ada upaya saya menggunakan “jari telunjuk” untuk memamerkan kehebatan saya, walau saya juga tak mau menyimpan “jari telunjuk” saya agar bisa dipakai untuk membantu orang lain.” Dengan kata lain, saya berusaha agar orang melihat Tuhan sebagai yang memiliki otoritas dan kuasa untuk membuat segala sesuatunya terjadi.
Hari ini kita mendengarkan para pemuka agama mempertanyakan kuasa Yesus. Dalam bahasa Inggris, kata “kuasa” diterjemahkan dari bahasa aslinya dengan kata “authority” atau otoritas. Kata “otoritas” berasal dari bahasa Latin, “auctoritas” yang berasal dari kata “auctor,” yang artinya pemrakarsa. Pemrakarsa adalah orang atau sumber di mana sesuatu berasal. Para pemuka agama merasa tidak terima karena Yesus mengobrak-abrik Bait Allah sebelumnya (baca Injil kemarin). Yesus-pun menanggapi tantangan para pemuka agama dengan mempertanyakan perihal otoritas yang dimiliki oleh Yohanes Pembaptis. Para pemuka agama tidak menjawab bukan karena tidak tahu tetapi mereka tidak mau. Mereka tidak mau mengakui otoritas Yohanes Pembaptis yang datang dari Tuhan karena merasa cemburu, dan juga takut kepada orang banyak bila tak mau mengakui otoritas Yohanes Pembaptis.
Bukankah kita ini sering berusaha menunjukkan otoritas kita kepada yang lain baik di rumah, di lingkungan dan di komunitas? Apalagi bila kita merasa kekuasaan kita terganggu oleh yang lain. Suami tak senang dibantah istrinya, ibu tak senang bila anaknya berbeda pendapat dengannya, atau pemimpin tak mau mendengarkan pendapat bawahannya. Semua yang datang dengan perasaan bahwa sayalah empunya otoritas, dan sikap melupakan, bahwa Tuhanlah Sang Empu otoritas sebenarnya, membuat kita menjadi sombong dan kasar terhadap yang lain. Itu yang terjadi ketika para pemuka agama berhadapan dengan Yesus. Apakah hidup anda menunjukkan dan membawa otoritas Allah atau otoritas diri sendiri? Kekalutan dan kesombongan adalah tanda-tanda orang yang merasa bahwa otoritasnya datang dari dirinya semata.
Kembali ke soal “jari telunjuk.” Jari telunjuk dalam cerita saya adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya. Sebuah alat tidak boleh merasa sebagai sumber kuasa melainkan sarana di mana kuasa Tuhan menemukan medium atau tempat untuk mengalir dan memberkati yang membutuhkan. Kita hanya “alat” Tuhan menunjukkan kuasanya, janganlah berusaha menjadi Tuhan. Janganlah menjadi pemuka agama, tetapi jadilah Yohanes Pembaptis yang berani berkata, “Dia harus semakin besar dan aku harus semakin kecil” (Yoh. 3:30). Jadilah “alat” untuk menyalurkan kuasa Tuhan.