MENYIMPAN SEGALA PERKARA DALAM HATI

MENYIMPAN SEGALA PERKARA DALAM HATI

Sabtu, 9 Juni 2018

[Yes. 61:9-11; Luk. 21: 41-51]

PW. Hati Tersuci SP Maria

MENYIMPAN SEGALA PERKARA DALAM HATI

Kisah paling ‘legend’ dalam hidup saya, yang pasti akan diceritakan oleh ibu saya kepada siapa pun yang datang ke rumah adalah kisah ketika saya mesti masuk ke rumah sakit dua kali dalam seminggu. Penyebabnya, pertama karena pipi saya sebelah kiri tergores silet cukur; dan kedua, karena hidung kemasukan biji jeruk nipis. Dalam dua kisah naas itu, saya sendiri merasa heran, karena tak setetes pun air mata saya jatuhkan, tapi semua menjadi wajar kalau mengingat segala kebandelan dan ke-mbeling-an saya sewaktu masih kecil. Itu terjadi ketika saya masih belum masuk sekolah, maka betapa ibu saya khawatir dan was-was, atau mungkin sambil membatin: “Mau jadi apa anak ini nanti?” Waktu itu, saya masih terlalu kecil untuk mengerti tentang itu semua. Namun, sekarang, ketika saya mengingat-ingat kembali peristiwa itu, beserta puluhan kisah kebandelan dan ke-mbeling-an saya sewaktu kecil, mungkin saya merasa berdosa, bahwa di balik sosok seorang ibu yang selalu merasa khawatir dan cemas terhadap segala keadaan tentang hidup saya, ternyata tersimpan kasih Allah yang besar yang dititipkan lewat ibu saya.

Injil hari ini mengangkat kisah Yesus pada umur 12 tahun dalam Bait Allah. Membayangkan apa reaksi saya kalau mengalami apa yang Santo Yusuf dan Bunda Maria alami, saya rasa belum sanggup untuk meresponi keadaan seperti Bunda Maria. Bayangkan saja, 3 hari mencari anak tunggal, pasti cemas, tidak bisa tidur nyenyak, makan tidak enak, badan letih karena perjalanan jauh, dan emosi akan lebih menguasai kita. Setelah akhirnya menemukan si anak, jawaban yang diberikan seperti tidak menghargai usaha anda mencarinya. Wajar rasanya untuk memarahi habis-habisan, mungkin termasuk menghukum. Tapi Injil mencatat bahwa tidaklah mustahil untuk memberi reaksi berbeda. Bunda Maria menyimpan semuanya itu dalam hatinya, yang saya yakin juga ia curahkan melalui doa-doanya. Mari kita kembali pada teladan yang telah diberikan pada kita. Kiranya kita belajar meresponi keadaan seperti yang Tuhan ingini, bukan yang berasal dari emosi sesaat. Kita juga jangan memendam emosi saja, tetapi bawalah semuanya dalam doa kita dan kiranya Tuhan menghibur dan memampukan kita bersikap seperti Bunda Maria sendiri.

Comments are closed.
Translate »