Pernikahan di Era Digital
Jumat dalam Masa Biasa ke-10
15 Juni 2018
Matius 5:27-32
Kita hidup di tengah-tengah masyarakat yang sangat canggih dengan semua kemajuan teknologi dan ilmiah. Namun, dengan segala kamajuan yang kita nikmati, kita tetap saja bergulat dengan permasalah di dalam pernikahan dan tidak dapat berdamai dengan diri kita sendiri dan pasangan hidup kita. Pernikahan menghadapi jalan bergelombang, dan terkadang jalan buntu. Pasangan menemukan kehidupan mereka tidak bahagia dan penuh masalah. Ada saatnya, terjadi kekerasan verbal, emosional dan fisik. Perselingkuhan ternyata menjadi godaan besar bahkan untuk pasangan bahagia. Tak heran jika suami dan istri akhirnya menemukan perpisahan, deklarasi pembatalan nikah, dan bercerai sebagai solusi instan. Generasi muda menemukan hidup penikahan tidak lagi relevan dan lebih memilih untuk tinggal bersama tanpa komitmen permanen. Beberapa umat Kristiani pun memilih menikah sipil, berpikir bahwa pernikahan di Gereja membawa kerumitan besar dan beban keuangan.
Hal Ini tidaklah mengejutkan, dan pola pikir digital kita memberikan kontribusi juga pada semakin ruwetnya permasalahan dalam pernikahan saat ini. Paus Francis dalam Seruan Apostoliknya, Evangelii Gaudium, menulis, “Kadang-kadang kita tergoda untuk mencari alasan dan mengeluh, bertindak seolah-olah kita hanya bisa bahagia jika seribu kondisi dipenuhi. Hal ini karena ‘masyarakat teknologi’ kita telah berhasil mengandakan kesempatan meraih kenikmatan, namun telah menemukan sangat sulit untuk menemukan sukacita sejati (# 7).” Kita langsung beralih saluran TV ketika kita merasa bosan. Kita ketagihan untuk ‘Like’ dan ‘comments’ di Facebook. ‘Friend’ dan ‘Unfriend’ menjadi kosa kata baru. Kita selalu dalam perlombaan untuk gadget terbaru dan membuang model usang meskipun pada kenyataannya mereka masih berfungsi dengan baik.
Yesus tidak menawarkan solusi instan untuk permasalahan dalam pernikahan kita. Bahkan, Dia menegaskan kembali bahwa percerai bukanlah kehendak Allah. Dia bahkan mengkritik sikap instan orang-orang Farisi. Yesus tampaknya agak kejam terhadap orang-orang yang menghadapi begitu banyak masalah pernikahan. Namun, Yesus tahu bahwa pernikahan dan komitmen adalah sebuah panggilan bagi sebuah pilihan radikal untuk mencintai. Sebagai Pencipta kita, Dia menyadari bahwa kita mampu untuk pemberian diri yang radikal. Kita menjalin sebuah pernikahan tidak untuk menghasilkan banyak kenikmatan belaka, tetapi untuk menemukan sukacita sejati bahkan di tengah-tengah masalah dan penderitaan. Kita diciptakan bukan untuk sekedar kontrak sempetara, tetapi perjanjian abadi.
Yesus mengajak kita untuk mengubah sikap kita dan perspektif dalam hidup dan pernikahan suci, dan menyesuaikan diri dengan kehendak Tuhan. Dan ini dimulai dengan hal-hal sederhana. Ini berarti akan melawan budaya gratifikasi instan, dan bersikap kritis dengan pola pikir teknologi kita. Ini berarti membuat usaha ekstra dalam membangun dan mempertahankan persahabatan, dan jangan terburu-buru untuk mengakhirinya saat situasi mulai sulit. Ini berarti menikmati apa yang kita telah miliki seberapapun kecilnya. Ini berarti tekun dalam karya yang sulit namun bermakna, dan menghargai orang lain yang telah memberikan kontribusi positif untuk hidup kita, tidak peduli seberapa kecilnya. Ini mungkin langkah-langkah kecil, tapi saat ketekunan dan komitmen telah menjadi kebiasaan kita, pencarian bagi keindahan dan kebahagian dalam pernikahan dan kehidupan akan datang secara alamiah. Kemudian, kita menyadari Yesus tidak salah untuk menegakkan hokum Tuhan bahwa pernikahan sejati tidaklah terceraikan.
Kita juga berdoa bagi pasangan suami-istri yang sedang menghadapi badai kehidupan.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP