Terheran-heran!
Heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” (Matt. 9:33 )
Saya hanya bisa berdecak kagum melihat keindahan matahari terbenam di Pulau Lembata. Salah satu pulau di wilayah Nusa Tenggara Timur, hanya 40 menit terbang dari Kupang. Laut diantara pulau Lembata, Adonara dan Alor terlihat kuning keemasan, indah disela kegelapan gunung Ile Boleng. Keelokannya melebihi sunset di Bali dan Lombok! Tempat ini terlihat masih perawan. Sepi dari gedung dan hotel. Tak ada turis asing. Hanya orang lokal yang menemani saya.
Tenyata perasaan heran bercampur kagum mengantar kita pada sikap hormat dan syukur. Syukur pada Allah kalau saya pernah melihat keindahan ini yang luar biasa. Saya berkata-kata seperti orang Israel yang melihat Yesus menyembuhkan seorang bisu, “Yang demikian belum pernah kita lihat!”
Bayangkanlah kalau anda pernah pergi ke sebuah tempat wisata untuk kedua atau ketiga kalinya. Pasti ada perasaan yang beda saat anda melihat tempat itu pertama kalinya. Ada kekaguman, heran, serta keinginan untuk terus menikmatinya. Namun perasaan itu lama-lama luntur ketika kita sudah terbiasa melihatnya. Keagungan dan keindahan yang ada menjadi biasa dan tak menimbulkan rasa syukur serta heran.
Perasaan heran orang Galilea membuat hati mereka terbuka untuk menerima pewartaan Yesus. Keterbukaan hati menggerakkan Yesus juga untuk melakukan penyembuhan dan mukjijat. Bahkan Yesus tergerak hatiNya setelah melihat mereka yang menerimaNya dengan lapang penuh rasa heran dan gembira.
Semoga kita semua juga bisa menumbuhkan sikap heran, kagum serta syukur sehingga kita bisa merasakan dan melihat Yesus yang terus membuat mukjijat dan mewartakan sabdaNya dalam pengalaman hidup harian yang biasa.