Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya
Senin 6 Agustus 2018
Pesta Yesus menampakkan Kemuliaan-Nya
Mari Belajar Mendengarkan
Bacaan Injil Mrk 9:2-9
Dalam bacaan injil yang akan kita renungkan hari ini, mengisahkan tentang peristiwa Yesus di atas Gunung Tabor. Yesus mengajak ketiga murid-Nya, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes ke atas gunung untuk berdoa. Kejadian berikutnya adalah Yesus berubah rupa di depan mata mereka, wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. “Inilah Putra-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”. Itulah suara dari Yang Mahatinggi, yang mengiringi peristiwa perubahan rupa Yesus di gunung. Dalam kemuliaan-Nya nampaklah Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kejadian ini tidak berlangsung lama, hanya sekejap saja, Musa dan Elia hilang dalam pandangan mereka.
Apa yang terjadi di Gunung Tabor sebenarnya merupakan suatu peneguhan atas pergumulan dan doa Kristus yang akan menempuh jalan salib. Sebelum Ia memasuki Yerusalem, Kristus mendapat kekuatan dari Bapanya, dari Musa dan Elia. Kehadiran Musa dan Elia memang merupakan penggenapan nubuat dari Firman Tuhan, dan mereka adalah nabi-nabi yang besar yang sangat dihormati umat Israel. Tetapi maksud kehadiran mereka, tentu memiliki tujuan, yakni sebagai nabi yang pernah melewati padang gurun yang kelam, padang gurun ketidakpercayaan dan penolakan. Mereka seolah-olah memberi konfirmasi bahwa jalan salib yang ditempuhNya adalah memang jalan yang kelam dan hina, tetapi itulah jalan yang penuh dengan kemuliaan. Hal itu diteguhkan oleh Allah sendiri yang berfirman dalam awan kemuliaan : “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” (ay 7). Peneguhan ini mau menunjukkan bagaimana Allah Bapa berkenan terhadap AnakNya.
Saudara-saudari terkasih, pentinglah bagi kita untuk menerima Yesus dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya. Mari kita bercermin diri dan mencermati apa saja yang merintangi atau menghambat kita untuk menerima dan mendengarkan Dia. Ada saat-saat dalam kehidupan kita ketika semuanya berjalan sesuai rencana dan pada waktu-waktu itu mudah untuk melihat bahwa Tuhan ada di pihak kita. Namun, ketika kita menghadapi cobaan dan ketika hal-hal tidak berjalan sebagaimana yang kita inginkan, maka transfigurasi adalah pengingat bagi kita bahwa bahkan ketika memikul salib kita, kita masih dicintai oleh Tuhan. Sebab itu, marilah kita belajar mendahulukan Allah dan kehendakNya, supaya hidup kita senantiasa berkenan di hadapanNya.
Mari juga belajar dari Petrus, Yakobus dan Yohanes bahwa hidup terkadang memberikan banyak kejutan. Beruntunglah, Petrus dan kawan-kawan selalu bersama Yesus. Kejutan itu pun kemudian dialami dalam iman. Rasa bahagia akan bermakna ketika direspon dengan iman. Iman kepada Tuhan dibutuhkan untuk dapat mencerna semua pengalaman bahagia maupun sedih sehingga menjadi pengalaman bermakna, bahwa Allah menyertai kita.
Marilah berdoa.
Ya Bapa, ajarilah kami untuk sentiasa menerima Putra-Mu dan mendengarkan ajaran-ajaran-Nya sehingga hidup kami semakin berkenan bagi-Mu dan makin banyak orang mengenal dan memuliakan nama-Mu. Tuhan bantu kami juga agar kami mampu menghayati pengalaman hidup kami di dalam iman kami kepada-Mu seperti para murid yang melihat kemuliaan Yesus di Gunung Tabor. Amin.