Siapakah Aku ini: Ajakan untuk Membangun Sebuah Relasi yang Intim
Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Injil hari ini memaparkan kepada kita bagaimana dialog yang mendalam terjalin antara Yesus dan para Rasul-Nya sebagai pengikut dan murid Yesus. Inti yang menjadi persoalan dari pertanyaan itu adalah apakah mereka mengenal identitas Yesus dan seberapa dalam mereka memahami guru-Nya? Ternyata jawaban Petrus menggembirakan hati Yesus. Di sini, Petrus bukan hanya memahami Yesus sebagai Mesias, tetapi juga sebagai anak Allah yang hidup. Pernyataan iman Petrus menjadi tonggak berdirinya jemaat Kristus di dunia. Jawaban Petrus mencerminkan adanya sebuah relasi yang sangat dekat, intim, terbuka dan mendalam terjadi di dalam anggota komunitas yang dibangun oleh Yesus.
Tetapi sesudahnya Yesus menyuruh murid-muridnya agar tidak memberitahu orang lain bahwa dia adalah Kristus (atau Mesias). Yesus juga mengoreksi pandangan Petrus mengenai dirinya yang akan menderita dengan menyatakan, “Enyahlah iblis!” Engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab Engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia. Alasannya cukup sederhana, karena orang-orang Yahudi, termasuk para murid dalam hal ini diwakili oleh pernyataan Petrus, pada saat itu memegang pemahaman yang salah tentang Kristus (Mesias). Mereka memahami Kristus sebagai pemimpin politik yang akan membebaskan mereka dari kekuasaan Roma dan membangun Israel sebagai satu kekuatan politik di dunia ini. Orang-orang Yahudi pada zaman itu memegang konsep yang salah tentang Kristus.
Saudara-saudariku, inti dari pertanyaan Yesus kepada para murid mengenai identitas-Nya bukan karena Dia ingin diberitahu atau diberi laporan tentang pendapat orang-orang mengenai diri-Nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para politikus zaman now dengan melakukan survei-survei, tetapi untuk menggambarkan perbedaan antara jawaban orang-orang dan jawaban para murid. Pengenalan sejati akan Allah tergantung pada seberapa dalam kita memahami Allah dan seberapa dekat hidup kita bersatu dengan-Nya. Injil hari ini memaparkan kepada kita sebuah relasi yang sangat dekat, intim dan terbuka serta mendalam terjadi di dalam anggota komunitas yang dibangun oleh Yesus.
Pertanyaan refleksi untuk kita renungan bersama:
1. Jika Yesus bertanya kepada kita seperti apa yang ditanyakan-Nya kepada para murid, apa respon atau jawaban yang akan kita berikan?
2. Mampukan kita membangun relasi seperti yang Yesus dan para murid bangun di dalam keluarga dan komuitas kita masing-masing yang ditandai dengan keterbukaan dan saling menghargai?