KAMIS PEKAN BIASA XXII 2018

KAMIS PEKAN BIASA XXII 2018

KAMIS PEKAN BIASA XXII 2018

1 Korintus 3:18-23; Lukas 5:1-11

Dalam bacaan injil hari ini, kita mendengarkan acara Yesus yang mulai memanggil para muridNya yang pertama. Para murid tersebut dipanggil dengan cara mereka yaitu sebagai seorang nelayan. Yesus mendatangi mereka, mendengarkan dan mengenal mereka sebagaimana adanya yaitu sebagai seorang nelayan. Namun demikian, ada satu kejanggalan yang muncul dalam perikope yang kita dengarkan tadi. Apa itu?? “Duc in Altum….. Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” kata Yesus. Mengapa aneh? Kita tahu bahwa Petrus dan saudara serta teman-temannya tersebut berprofesi sebagai nelayan. Mereka bukanlah nelayan kacangan atau amatiran yang baru saja menggeluti profesinya. Sebaliknya, mereka sungguh-sungguh nelayan professional yang telah sejak kecil (barangkali) belajar dan bekerja menjadi nelayan ditempat itu. Maka saya sangat yakin bahwa para calon murid Yesus tersebut sangat mengenal seluk beluk danau Genesareth. Mulai dari musim, angin, jenis ikan, kedalaman danau, daerah-daerah yang banyak ikannya, kapan waktu / musim panen ikan dst. Mereka sangat paham karena setiap hari danau itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Oleh karena itu, kita dapat memahami apabila Petrus “protes” kepada Yesus yang menyuruhnya bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jalanya. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menemukan apa-apa” ay 5. Petrus tahu betul kapan waktu yang tepat untuk menangkap ikan sama seperti pedagang di pasar yang tahu betul jam berapa pembeli berdatangan dan pergi, ataupun petani yang tahu kapan waktu yang tepat untuk menanam. Namun, disinilah kelebihan Petrus, “…..Tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga”. Petrus taat pada perintah Yesus, meskipun hal itu menurut Petrus tidak masuk logikanya.

Seperti Petrus yang putus asa karena tidak mendapatkan tangkapan yang diinginkannya, dalam perjuangan hidup kita pun, kita seringkali putus asa oleh kesulitan-kesulitan dan kegagalan-kegagalan yang menyertai perjuangan hidup kita. “Aku sudah belajar dan berdoa dengan sungguh-sungguh, namun mengapa kok ya tidak juga lulus. Atau aku sudah bekerja keras dan berusaha setia kepada pasanganku, namun mengapa kok perkawinanku tetap saja mengalami kegoncangan dst…”. Situasi-situasi seperti ini seringkali membuat kita putus asa dan tak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Kita percaya, bahwa Tuhan tidak

membiarkan kita berjuang seorang diri dalam hidup kita ini. Ia senantiasa mengutus penolong untuk membantu kita, entah itu melalui sesama kita, sahabat, anak-anak, komunitas, pasangan kita dst. Dengan berbagai cara, mereka seringkali dipakai Allah untuk membantu kita dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup kita. Namun sayang, kesombongan kita seringkali menutup rencana Allah itu. “Ah, kamu tahu apa tentang diriku! Ah, kamu anak kemarin sore saja memberitahu orang tua! Atau …halah… kamu itu romo baru kemarin sore dan tidak pernah menikah aja kok memberitahu masalah-masalah perkawinan kepada kami yang telah puluhan tahun menjalaninya. Romo tahu apa sih?”

Seringkali rencana dan cara Tuhan untuk menyapa kita itu susah dimengerti akal sehat kita. Pengalaman-pengalaman sepele seringkali dipakai Tuhan untuk mendidik kita semakin beriman dan membantu kita menghadapi perjuangan hidup ini. Oleh karena itu, hari ini kita diajak untuk rendah hati dan menghargai setiap pengalaman hidup kita dalam kerangka rencana Tuhan yang selalu membawa kebaikan bagi hidup kita.

Comments are closed.
Translate »