PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
PESTA KELAHIRAN SANTA PERAWAN MARIA
Mikha 5:1-4a atau Roma 8:28-30; Matius 1:1-16, 18-23
Saya yakin bahwa kita semua pernah melihat acara malam penganugerahan pemenang piala OSCAR (anugerah bagi para insan perfilman), para bintang film dan sutradara yang memenangkan piala itu tentu saja akan tersenyum lebar dan tertawa bahagia. Tidak jarang mereka meneteskan air mata haru dan dengan terbata-bata memberikan sambutan singkat. Biasanya dalam sambutan singkatnya itu, ia mengucapkan terima kasih kepada orang tua dan siapa saja yang telah berjasa dalam hidupnya.
Hari ini kita merayakan pesta kelahiran SP Maria. Bunda Maria dihormati dan dicintai umat Kristiani karena Yesus Kristus, anaknya. Karena Yesus Kristus, maka Bunda Maria selalu disebut dalam doa dan iman orang kristiani. Bahkan ada begitu banyak orang kristiani yang sangat mencintai Bunda Maria dan berdevosi kepadanya. Nabi Mikha menubuatkan Bunda Maria yang akan melahirkan Sang Mesias. Injil Matius hari ini mengisahkan proses kelahiran Yesus dari perawan Maria yang didampingi oleh St Yusuf suaminya.
Kelahiran St Maria Bunda Tuhan tidak dapat dipisahkan dari pribadi Tuhan Yesus Kristus, putranya. Demikianlah, kita bisa merenungkan betapa kelahiran kita tidak dapat dipisahkan dari orangtua & sanak saudari kita. Kita selalu berada dalam rangkaian hubungan yang saling tak terpisahkan. Itulah sebabnya, sikap dan tindakan yang mau memutus hubungan persaudaraan dan kekerabatan bukanlah tindakan yang bijaksana. Kita lahir dan ada dalam jalinan relasi yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa berkata “Aku tidak butuh orangtuaku, aku tidak butuh saudara saudariku, aku tidak membutuhkan teman-temanku. Aku bisa hidup sendiri. Aku tidak butuh siapa-siapa”. Hari ini kita diajak menyadari bahwa hubungan kita dengan siapapun akan tetap terpatri dan tercatat dalam sejarah hidup kita dan menjadi bagian hidup kita selamanya. Semoga dengan bantuan rahmat Allah, kehadiran kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang disekitar kita.