Selasa Pekan Biasa XXV Th II 2018
Selasa Pekan Biasa XXV Th II 2018
Amsal 21:1-6. 10-13a; Lukas 8:19-21
Beberapa tahun yang lalu kita mendengar tentang perseteruan di dalam keraton Kasunanan Surakarta antara Hangabehi dan Tejowulan. Mereka saling mengklaim bahwa diri mereka masing-masing yang paling berhak untuk menduduki tahta Kasunanan Surakarta. Akibat perseteruan ini, kedua saudara beda ibu ini saling serang dan mengakibatkan Tejowulan menyingkir dari keraton untuk mendirikan ”Keraton bayangan” yang ia pimpin sendiri. Untuk menunjukkan eksistensinya, mereka masing-masing saling memberikan “kekancingan” atau surat penghargaan kepada orang di luar keraton untuk diangkat menjadi “saudara” keraton. Sudah menjadi rahasia umum apabila banyak orang, (khususnya selebritis) yang dapat “membeli” gelar kebangsawanan tersebut demi suatu prestise. Mereka ingin diangkat menjadi kerabat keraton dengan suatu gelar tertentu agar mendapatkan gengsi dan ketenaran.
Bacaan injil hari ini seolah-olah menunjuk Yesus sebagai Malin Kundang atau anak yang durhaka, karena Yesus tidak mau memprioritaskan Ibu dan saudara-saudariNya. Bahkan kata-kataNya cukup pedas menurut ukuran orang kebanyakan, “Ibuku dan saudara-saudaraKu adalah mereka yang mendengarkan sabda Allah dan melaksanakannya”. Yesus seolah-olah tidak mempedulikan persaudaraan berdasarkan hubungan darah. Namun tidak serta merta demikian, Yesus menekankan bahwa persaudaraan itu tidak melulu soal hubungan darah, melainkan lebih pada kesediaan untuk mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah. Yesus lebih menghargai orang yang bertekun melaksanakan dan mendengarkan kehendak Allah dari pada hanya soal relasi kekerabatan.
Hari ini Tuhan Yesus hendak mengubah paradigma kita soal persaudaraan. Kalau selama ini kita beranggapan bahwa hubungan kekeluargaan itu sebagai yang sangat penting dan harus dipertahankan mati-matian, betapa malangnya kita karena kita tidak mungkin dapat dekat dengan Yesus yang bukan saudara kita sedarah. Kita diberi kesempatan oleh Yesus untuk dekat dan menjadi “saudaraNya” apabila kita mampu mendengarkan dan melaksanakan kehendak BapaNya. Menjadi saudara Yesus berarti kita sungguh-sungguh dekat dan mengenal kehendakNya. Pengenalan ini mengantar kita untuk hidup seturut kehendak Yesus. Dan inilah satu-satunya
jaminan keselamatan kita. Semoga hari ini dan selanjutnya, kita mampu mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah dalam hidup kita.