PERBUATAN BAIK DALAM KETEKUNAN DAN KESETIAAN
Sabtu, 9 November 2018
Pw S. Leo Agung, PausPujG (P).
[Flp. 4:10-19; Mzm. 112:1-2,5-6,8a,9; Luk. 16:9-15]
PERBUATAN BAIK DALAM KETEKUNAN DAN KESETIAAN
Salah satu syarat tugas kelulusan kuliah di tempat kami, adalah terselesaikannya tugas akhir berupa tulisan, yang disebut dengan: tesis. Tulisan akhir ini bahkan menjadi patokan akademis bagi kami dalam menapaki tahap berikutnya. Maka, mau tidak mau, suka tidak suka tugas akhir ini mesti diselesaikan tepat waktu. Namun, karena tugas kuliah lain, juga sangat banyak, belum lagi tugas asrama yang menanti untuk dikerjakan, tugas akhir ini kadang tidak dikerjakan dengan sebagaimana mestinya. Artinya, kadang dikerjakan dengan ‘setengah-setengah’ atau tidak sepenuh hati. Namun, ada juga beberapa teman, yang bisa menyelesaikan tepat waktu karena mereka memiliki ketekunan, yang diusahakan setiap hari. Misalnya, dengan menyediakan waktu satu jam khusus sehari untuk mengerjakan tugas akhir ini. Tugas akhir ini kadang menjadi terasa berat dikerjakan, karena menganggapnya sebagai sesuatu yang ‘sangat besar’, namun tidak menempatkannya sebagai sebuah hasil dari ketekunan dari mengerjakannya hari demi hari, sedikit demi sedikit, namun toh akhirnya selesai juga.
Yesus bersabda: “Barangsiapa setia pada perkara-perkara kecil, ia setia juga pada perkara-perkara besar.” Yesus menegaskan bahwa setiap orang punya kesempatan sama untuk mengerjakan sesuatu, dan setiap orang punya tujuan dalam hidupnya, namun semua itu tidak tercapai kalau tidak dimulai dengan langkah demi langkah, setapak demi setapak, karena segala sesuatu tidak akan selesai kalau tidak pernah dimulai. Yesus mengajak kita untuk menghargai kesempatan-kesempatan kecil yang kita miliki untuk melakukan sesuatu yang berguna. Yesus tidak mengharapkan sesuatu yang besar atau prestasi tertentu, tapi cukuplah kalau kita tekun dan setia dengan segala sesuatu yang kita kerjakan. Kesempatan-kesempatan kecil untuk melakukan sesuatu yang berguna ini tentunya bisa kita usahakan lewat kehadiran dan karya sehari-hari bersama orang-orang terdekat kita; lewat sapaan, lewat usaha untuk membangun kebersamaan dan lewat segala hal yang tampaknya sepele namun tetap bermakna bagi yang memandang dan merasakannya.
Selamat pagi, selamat bertekun dalam perbuatan-perbuatan baik. GBU.