Baptism of the Lord, a lesson of humility to us
Baptism of the Lord, a lesson of humility to us
John 3:22-30
Sabtu, 12 Jan, 2019
Pembaptisan Tuhan membawa kita ke dalam misteri inkarnasi, suatu misteri iman yang membuat kita kagum sekaligus takjub oleh kemahakuasaan dan kesederhanaan-Nya di tengah kita. Apa makna baptisan kita? Barangkali yang penting untuk kita adalah merenungkan bagaimana Allah merendahkan diri-Nya dan dengan itu membantu kita menghidupinya sebagai kaum terbaptis. St. Thomas Aquinas memberi komentar tentang pembaptisan Tuhan dengan menulis: “Our Lord did not baptize with the baptism wherewith He had been baptized; for He was baptized by a servant, as a lesson of humility to us, and in order to bring us to the Lord’s baptism, i. e. His own; for Jesus baptized, as the Lord, the Son of God.”
Seperti hamba. Kesederhanaan Tuhan dalam peristiwa pembaptisan di Jordan nampak dalam kerelaan dan keterbukaan-Nya untuk menerima baptisan dari Yohanes; dia yang mewartakan pertobatan. Inilah cara Tuhan untuk mengajarkan kita makna kerendahan hati. Ia datang kepada Yohanes, kendati Ia adalah Putra Allah, yang tidak memerlukan baptisan manusia. Tuhan justru membalikkan cara pandang ini. Ia merendahkan diri untuk dibaptis agar belajar dari realitas ini kita dibimbing kepada pengenalan akan rahmat kasih Allah yang tiada batasnya yang dalam Kristus dicurahkan bagi keselamatan kita melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, agar dengan itu kita boleh masuk dan berpartisipasi dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal.
Air baptis. Air adalah simbol pembersihan dan penyucian. Tapi Yesus membaptis dengan Roh dan api. Dengan Roh Kudus, Allah yang maharahim mengampuni dosa dan menguduskan kita umat-Nya. Dengan api, yakni api cinta kasih, kita dipanggil dan dimampukan untuk berbagi kasih dan pengampunan Allah itu di dalam hidup kita. Yohanes sendiri memberi kesaksian bahwa Kristus datang untuk membebaskan kita dari perhambaan dosa: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia.” Sebagai Anak Domba Allah, Kristus menjadi korban dan silih atas dosa-dosa kita.
Menjadi semakin kecil. Yohanes melihat dirinya sebagai seorang hamba yang bertugas membuka dan menyiapkan jalan bagi Tuhan: “membuka tali kasut-Nya pun aku tidak pantas.” Namun ia percaya dan taat pada Yesus agar terpenuhilah semua sabda kebenaran (Mt 3: 14-15). Yohanes menunjukkan kepada kita makna kerendahan hati secara khusus dalam kaitan dengan panggilan kemuridan, yakni untuk membuat Kristus, yang adalah jalan, kebenaran dan hidup semakin dikenal, dicintai dan dihormati. Sebab sukacita setiap sahabat mempelai, ialah agar dalam segala-galanya kerajaan Allah terus bertumbuh dan menjadi semakin besar.