Sebuah Persembahan

Sebuah Persembahan

Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah

Sabtu, 2 Februari 2019

Lukas 2:22-32

 

Yusuf dan Maria sebagai bagian dari bangsa Yahudi yang setia kepada Hukum Taurat memenuhi apa yang diperintahkan oleh Allah melalui Musa tentang anak yang “membuka rahim”. Menurut Hukum Taurat, setiap anak laki-laki “yang membuka rahim” baik itu anak manusia maupun ternak gembalaan adalah milik Allah. Hewan gembalaan yang masuk dalam kategori ini harus dipersembahkan ke Bait Allah dan menjadi korban bakaran bagi Allah. Sedangkan anak sulung manusia harus ditebus dengan hewan persembahan (lih. Kel 13:11-16). Yesus adalah anak sulung dan satu-satunya, dan sebagai anak sulung Ia harus ditebus sesuai dengan ketentuan Hukum Taurat. Karena Maria dan Yusuf adalah keluarga miskin, mereka hanya bisa mempersembahkan dua ekor anak burung merpati.

Tetapi, ada sesuatu yang tidak biasa dengan Injil hari ini. Yesus seharusnya “ditebus”, tetapi Maria dan Yusuf “mempersembahkan” Yesus di Bait Allah. Yesus tidak ditebus, tetapi dipersembahkan. Perbedaan kecil ini yang tampaknya tidak begitu signifikan memiliki arti yang sangat mendalam. Seperti hewan ternak yang dipersembahkan untuk menjadi korban bakaran di Bait Allah, Yesus pun dipersembahkan menjadi korban. Dan seperti hewan korban yang digunakan untuk menebus anak manusia, Yesus yang seharusnya ditebus, menjadi “penebus” bagi anak-anak manusia.

Perayaan hari ini memiliki makna yang mendalam karena sejak awal masa hidupnya di dunia, identitas dan misi Yesus sebagai korban persembahan dan sebagai penebus telah ditunjukkan. Bayi Yesus dipersembahkan di Bait Allah Yerusalem, dan saat Yesus dewasa kembali ke Yerusalem, dia akan mempersembahkan diri-Nya di salib sebagai sebuah korban bagi penebusan kita semua dari dosa.

Belajar dari Maria, Yusuf dan Yesus, kita pun diajak untuk mempersembahkan hidup kita sebagai sebuah kurban yang berkenan di hati Allah. Kita tidak perlu disalib seperti Yesus atau dibakar seperti hewan persembahan. St. Paulus mendorong kita seperti juga umat di Roma untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah (lih. Rom 12:1). Hidup kita adalah kurban hidup dan mengikuti teladan Yesus kita bisa menjadi kurban yang berkenan kepada Allah. Apapun identitas dan misi hidup kita, entah sebagai imam, biarawan, atau awam, kita telah dimampukan untuk menjadi kurban hidup yang berkenan bagi Allah.

 

Diakon Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate »