Dipanggil menjadi Pelaku Kesaksian
Senin, 4 Februari 2019
Hari Biasa IV
Bacaan I Ibr 11: 32-40
Bacaan Injil Markus 5: 1-20
Dipanggil menjadi Pelaku Kesaksian
“Orang itu pun pergi, dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala yang telah diperbuat Yesus atas dirinya, dan mereka semua menjadi heran” (Mrk 5:20). Itulah kalimat terakhir dalam Injil hari ini yang semoga menyadarkan kita tentang perlunya sebuah kesaksian dalam karya pewartaan. Tugas mewartakan Injil adalah panggilan dan keharusan setiap pengikut Yesus. Mewartakan Injil pertama-tama berarti memberikan kesaksian secara sederhana dan langsung mengenai Allah yang diwahyukan oleh Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Maka, haruslah jelas bahwa yang diwartakan adalah Yesus Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, yang wafat dan bangkit dari kematian. Itulah karya penebusan yang ditawarkan Allah kepada setiap orang sebagai suatu karunia rahmat dan belas kasih Allah.
Terhadap tawaran Allah itu, kita menanggapinya dengan iman dan kesaksian. Mengapa perlu kesaksian? Karena, yang kita wartakan adalah kebenaran dan kenyataan tentang karya Yesus bagi diri kita pribadi. Pertama-tama, karya Yesus itu terjadi dalam hidup kita masing-masing, lalu reaksi kita kala itu mungkin terperangah, terkejut, dsb. Namun, sebagaimana orang dalam Injil hari ini yang telah dibebaskan Yesus dari pengaruh jahat Legion, kita akhirnya mengalami kesembuhan dari penyakit-penyakit kita. Demikianlah kesaksian, yaitu bahwa kita mewartakan apa yang telah kita alami secara nyata. Kesaksian sebagai bentuk pewartaan bisa dilakukan melalui perilaku, corak hidup, kesetiaan dan sikap lepas bebas. Itulah kesaksian yang membantu sesama menuju pada kekudusan. Dan, kita semua terpanggil untuk menjadi pelaku kesaksian, bukan hanya penerima cerita-cerita kesaksian belaka. Kita justru diajak untuk menjadi pribadi yang berani mewartakan karya Yesus secara jujur.
Harapannya, kita bisa menjadi tokoh-tokoh iman yang karakteristiknya ada dalam bacaan pertama dari Surat Ibrani. Senantiasa hidup dalam keteguhan iman, menjaga keutuhan iman dan mencintai iman akan Yesus Kristus. Inilah sebuah keindahan sikap hidup yang siap menerima janji keselamatan dari Allah. Semoga, kita semua semakin menyadari peran sebagai pewarta dengan jalan bersaksi tiada henti. Sebab, Allah mempunyai rencana yang lebih baik bagi kita semua, sampai akhirnya kita menerimanya secara sempurna adanya.