Kesaksian dalam Penderitaan
Rabu, 6 Februari 2019
PW St. Paulus Miki, dkk
Bacaan I Ibr 12: 4-7. 11-15
Bacaan Injil Markus 6: 1-6
Kesaksian dalam Penderitaan
Tidak bisa dipungkiri bahwa Gereja bisa bertumbuh dan berkembang karena salah satunya ada kemartiran. Pembelaan iman yang dilakukan para martir membuat banyak orang takjub sehingga merasa ingin memiliki semangat yang berkobar seperti para martir. Kesaksian iman macam inilah yang dihidupi St. Paulus Miki, dkk sebagai pengikut Kristus. Iman menemukan kesempurnaannya dalam keberanian diri untuk bersaksi, bahkan menuntut pengorbanan dan kemartiran. Mereka telah mengorbankan jiwa-raga demi mempertahankan cinta yang utuh bagi Kristus. Kalau kita, kira-kira apa yang telah kita korbankan dan persembahkan sebagai tanda cinta bagi Kristus?
Bacaan pertama hari ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kehidupan tak selamanya tentang kenyamanan. Orang yang dikasihi Tuhan perlu “dihajar” oleh-Nya. Rasa hajaran itu memang tidak enak, malahan pasti mendatangkan dukacita. Tak bisa secara manusiawi kita menemukan kenikmatan ketika sedang dihajar. Yang biasanya terjadi justru kita terdorong untuk membalas, menghindar dan sebisa mungkin menjauhi. Namun, Tuhan mempunyai cara lain, yakni menuntut kesetiaan kita melalui berbagai hajaran hidup. Kalau kita berhasil melewati masa-masa hajaran, itu karena diri kita dipasok kekuatan yang dahsyat dari Tuhan. Maka, baik bagi kita untuk merenungkan -sebagaimana para martir- yaitu ketika menerima hajaran, kita memohon kepada Tuhan untuk diberi kekuatan menanggungnya. Tidak ada cara lain yang bisa menghindarkan kita dari hajaran Tuhan, sebab yang Tuhan kehendaki adalah perkembangan hidup kita. Pada saatnya, hajaran-hajaran itu akan menghasilkan buah kebenaran dan mendatangkan sukacita lantaran kita telah mempunyai kekuatan.
Tidak ada kemudahan dalam hidup. Namun, kita memiliki kekuatan untuk membuat segala sesuatunya mudah dan bisa dicapai. Jika kita bisa memaknai segala macam hajaran Tuhan dan penderitaan hidup, maka di situlah peluang kita untuk memberi kesaksian tentang kesetiaan, keteguhan dan kekuatan Tuhan. Artinya, orang lain akan mempelajari cara hidup kita yang membuat kita tetap mampu bertahan hidup. Dan, itulah saatnya kita mewartakan bahwa satu-satunya pegangan yang memberi kekuatan adalah iman akan Yesus Kristus. Dengan demikian, pewartaan bisa terjadi melalui hidup kita masing-masing kepada semakin banyak orang.