Bibir dan Ketenangan

Bibir dan Ketenangan

Sabtu 9 Februari 2019

Hari Biasa IV

Bacaan I Ibr 13: 15-17. 20-21

Bacaan Injil Markus 6: 30-34

Bibir dan Ketenangan

Surat Ibrani pada bacaan pertama hari ini merupakan bagian akhir yang isinya mengajak kita untuk memuliakan Allah dengan ucapan bibir yang memuji-Nya. Sebegitu pentingnya bibir untuk memuliakan Allah sehingga patut dijaga dengan baik. Kita semua tahu bahwa Yesus dalam karya-Nya juga membutuhkan bibir dan ucapan untuk membuat mukjizat. Segala tindak mukjizat Yesus selalu diakhiri –atau bahkan diawali- dengan kata-kata Yesus. Melalui itu, Yesus memberi ajaran sehingga banyak orang paham dan mengerti tentang keselamatan, Kerajaan Allah dan damai sejahtera. Ucapan Yesus keluar dari dalam hati-Nya yang bersih, suci dan kudus. Bagaimana Yesus mampu memiliki kekuatan ucapan dan bibir yang sedemikian sempurnanya? Jawabannya ada dalam Injil.

Bacaan Injil menggambarkan kehendak Yesus -yang membawa para murid pasca melakukan tugas perutusan- untuk menepi, menyingkir dari keramaian guna memeroleh ketenangan. Rupa-rupanya, ketenangan adalah pondasi yang dimiliki Yesus untuk dapat menggunakan ucapan-Nya demi kedamaian banyak orang. Yesus senantiasa mencari tempat yang tenang dan sepi untuk berdoa. Di sanalah Yesus menimba kekuatan Allah agar karya-Nya tidak berseberangan dengan rencana keselamatan. Ketenangan dapat membantu manusia untuk mengendapkan segala kegiatan yang telah dilakukan sekaligus memberi kesegaran reflektif. Bahkan, ketenangan membantu kita pula untuk dapat mendengarkan suara Tuhan sehingga kita dapat melakukan tugas perutusan selanjutnnya sesuai kehendak Tuhan.

Kata-kata yang keluar dari bibir kita diproduksi dengan melibatkan segala pikiran dan perasaan. Maka, jika pikiran dan perasaan kita tidak bersih, kata-kata yang keluar juga beraroma tidak bersih, misalnya berisi kebencian, tipu muslihat, kesombongan dan berbagai kedosaan lainnya. Kita harus sadar bahwa pada hakekatnya bibir diberikan Allah kepada kita agar kita mampu memuliakan Allah dan bersyukur atas nikmat-Nya. Mari kita bermenung. Jika dibuat perbandingan, lebih banyak mana porsinya ketika kita menggunakan bibir: apakah lebih banyak memuliakan Allah? Atau, cenderung mencederai sesama, membuat hal-hal provokatif dan bernuansa kejahatan? Kita bisa memulainya dengan melihat perjalanan kita dalam satu hari ini.

Comments are closed.
Translate »